Love Is Like Chocolate

Love Is Like Chocolate

  • WpView
    Reads 434
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 20, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
Luka yang kau buat terlalu dalam! Membuatku takut untuk memulainya lagi. Apa aku akan terus seperti ini selamanya? Takut akan jatuh cinta "Aku fabilla. Dan aku gamau makan coklat, sebenernya bukan karena aku ga suka coklat. Aku sangat suka coklat. Tapi rasa sakit yang aku rasakan setelah memakan coklat lah yang membuat aku takut makan coklat. Sama halnya dengan cinta. Aku takut akan jatuh cinta karena apa yang akan aku rasakan setelahnya adalah sakit hati. Tapi aku juga tak mau terus seperti ini. Apa aku harus mencoba melawan rasa takut ini?" Ini kisahku
All Rights Reserved
#65
kisahcintaremaja
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • TAK BERSAMBUT
  • Cinta Yang Dingin Hati Yang Tersimpan (Fredel)
  • Setahun Bersama Cinta
  • Why Do You Love Me [COMPLETED]
  • I LOVE YOU TO THE SUN AND BACK
  • LAKSADEKA
  • FALLING IN LOVE

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines