Sweety Boy

Sweety Boy

  • WpView
    Reads 44
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 15, 2016
Tak senada dan seirama. Kata-kata itu terus keluar dengan mudahnya disaat aku merasa sedih. Kesedihanku bermula saat aku merasa pacarku tak mengerti keinginanku. Aku menganggap dia egois,tak seromantis orang-orang pacaran pada umumnya. Ya dia egois. Sebut saja nama pacarku ini Tio. Cowok yang tingginya pas-pasan dengan kulit sawo matang. Iya punya senyum menawan dengan bibir merahnya. Opzzz bukan banci yaa. Walau tingginya hanya pas-pas tapi tetap saja tinggiku tak mengalahkan tingginya. Jadi boleh di bilang aku termasuk cewek yang pendek. Sudah berulang kali aku mengutarakan keinginan ku padanya,tapi tetap saja dia tak paham. Entah dia benar-benar tak mengerti dengan yang aku maksud atau memang asli tak faham. Sikapnya yang seperti itu membuat aku benar-benar jengkel. Dia selalu bilang kangen, tapi aku nggak bisa menilai itu benaran kangen atau hanya ucapan semata. Aku bilang gitu karena dia jarang nelpon aku, jarang ngajak ketemuan. Pacaran apaan nggak ada ngajak ketemuan nya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tingkat Tiga
  • Naughty Nanny
  • My Handsome Devil
  • My mate is my little friend
  • MAUREN (On Going)
  • YOU [KOOKV/KOOKTAE][END]
  • Angelista Geavano [Completed]
  • Stay? [COMPLETED]
  • False Hopes

"Kenapa ya mbak ada orang yang cakep banget gini di dunia?" jawabnya sembari menunjuk ke arahku. Mataku membulat. Bukan karena dia mengataiku sebagai perempuan yang cukup cantik, namun karena perubahan panggilan yang dia berikan padaku. "Mbak?" tanyaku memastikan. Alih-alih menggeleng atau mengelak, Rafka justru langsung mengangguk. "Iya. Mbak Caca." "Ngapain ikut panggil gue mbak?" "Biar lebih deket aja. Lo kan dipanggil mbak sama Keenan." "Ya dia kan adik gue." Balasku sengit. "Ya gue mau ikutan, Mbak. Kedengaran lebih gemes." Aku memutar bola mata jengah. "Gemes-gemes apaan. Lo mau jadi adik gue juga?" "Kalo jadi pasangan lo aja gimana?" "Kalo gitu jangan panggil mbak." Rafka menegakkan tubuhnya. "Lo serius?" "Soal apa?" "Lo mau jadi pacar gue." "Siapa yang bilang?" tanyaku berpura-pura bingung. "Tadi kak. Lo bilang gue jangan panggil lo 'mbak' kalo nggak mau dianggap jadi adik." "Artinya lo mau kan jadi pacar gue?" lanjutnya menuntut jawaban.

More details
WpActionLinkContent Guidelines