Aku, Pandanganku, dan Duniaku

Aku, Pandanganku, dan Duniaku

  • WpView
    Reads 47,640
  • WpVote
    Votes 8,379
  • WpPart
    Parts 28
WpMetadataReadComplete Mon, Feb 6, 2023
Di tengah keramaian, ada orang-orang yang kesepian. Mereka mungkin tertawa bersamamu, membaur dalam canda. Namun jika kamu melihat mata mereka lebih dalam, kamu akan menemukan kekosongan di sana. Barangkali keramaian tak mampu mengisi rasa sepi di dalam hati mereka. Mereka berusaha mengakalinya dengan tawa, canda, dan omong kosong lainnya untuk lari dari sepi dan ketika semua itu berakhir, tak ada apa pun di sana selain sepi yang sama menyapa. Menyedihkan bukan? Namun tak lebih menyedihkan dariku, karena harus hidup berdampingan bersama mereka....
All Rights Reserved
#68
topeng
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sudut Luka Nazea
  • LBK: Liliy, Biru, Kael
  • Savero Archandra || Haechan || END
  • Kenapa Harus Aku?! || Kim Sunoo [END]✓
  • Senja
  • Behind The Smile (TERBIT)
  • "Biarlah: Sebuah Kisah Tentang Sunyi dan Luka"
  • AYARA [END]
  • DENTING  [Revisi]

"ketakutan terbesar seorang anak adalah perpisahan orang tuanya. Kehilangan mama dan papa sama halnya dengan kehilangan seluruh napas. Enggak ada mama sama papa rasanya sunyi dan hampa, rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dari apapun. Dunia juga terasa sudah tidak berarti." ~Queenza Nazea Azalea ˚₊‧꒰ა☁️☁️☁️໒꒱ ‧₊˚ Di ajarkan melangkah, meski tertatih-tatih dan berujung jatuh. Di latih menapaki tangga meski berulang kali terhenti karna lelah. Bagi nazea, hal yang paling menyedihkan adalah ketika dihadapkan dengan kehancuran keluarga. Nazea benci perpisahan. Karena nazea tidak suka di tinggalkan. Nazea benci sendirian, karena nazea kesepian. Namun, apa yang sudah retak, akan tetap pecah. Pada akhirnya, meskipun nazea tidak suka, nazea harus menerima. Ada yang mengangkat tangan tinggi-tinggi seraya menjerit tak sanggup, ada yang menyembunyikan kepedihan sekuat mungkin sembari terus menerus mengulas senyum. Karena hanya diperuntukkan dua pilihan, bertahan atau menyerah? Atau lebih tepatnya, mampukah berdiri di atas ubin keikhlasan? "lagi, dunia kembali mempermainkan hidupku. Namun, sampai kapan?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines