INTUISI
  • WpView
    Reads 30
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 15, 2024
WpInfo
Fiction
Mystery
"Setiap perkataan adalah doa." Aku tak pernah mempercayai kalimat itu. Entah siapa pencetusnya, tapi itu hanyalah bualan semata. Kenapa? Karena jika kalimat itu benar adanya, maka aku tak akan ada disini dan takdirku tidak akan seperti ini. Ketika satu persatu keinginannya terwujud dalam bentuk nyata, kala tiap pengharapannya terkabul layaknya berkah. Namun Nirmala tak pernah tahu jika itu adalah awal dari kebahagiaan semu, permulaan dari malapetaka. Nirmala terlambat memahami ganjaran dari kemampuan yang ia anggap berkah. Terlambat mengetahui rahasia gelap yang menodai jiwa yang awalnya bersih tanpa cela. Keserakahan dan ketamakan yang membutakan mendorong Nirmala jatuh ke dalam jurang kesengsaraan. Sayangnya, Nirmala terlanjur kehilangan moralitasnya dan karma mulai memburunya.
All Rights Reserved
#634
horror
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DOSA DIAM
  • Shadows of the Main Story
  • Effort ( COMPLETED )
  • Bayangan di Balik Sekolah
  • ABERTUYAMAK
  • Exchange Souls With Villains
  • 𝐇𝐄𝐊𝐒𝐀𝐕𝐈𝐀𝐍
  • Garis Singgung Dua Dimensi (END SEASON)
  • Hello, Princess!
  • TNF Family x reader [HIATUS]
DOSA DIAM

Di balik pagar tinggi dan lantunan ayat yang terus mengalun, ada tempat yang tampak damai. Setiap hari diatur oleh jadwal yang sama, suara azan yang memanggil, dan wajah-wajah yang seolah tenang. Tapi ketenangan tak selalu berarti aman. Beberapa datang ke tempat itu untuk mencari ilmu, sebagian untuk mencari arah. Namun ada yang datang membawa beban yang tak kasat mata, beban yang tak bisa ditinggal di luar gerbang. Di dalam kamar-kamar sempit dan lorong-lorong yang tak pernah benar-benar sepi, sesuatu mengintai. Bukan sosok. Tapi perasaan. Tekanan. Dendam. Dan rasa bersalah yang tak pernah padam. Apa yang terjadi di masa lalu seolah terkubur rapi. Tidak ada yang berani membicarakannya, apalagi menanyakan. Tapi diam tidak pernah benar-benar memadamkan kebenaran. Ia hanya menundanya... sampai waktunya tiba untuk muncul dalam bentuk yang tak terduga. Dan ketika suara-suara samar mulai terdengar saat malam tiba, ketika tatapan menjadi dingin dan doa-doa terasa hampa-seseorang tahu bahwa tempat itu tidak lagi menjadi tempat berlindung. Tapi medan perang yang sunyinya bisa membunuh siapa saja yang memilih tetap diam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines