Gelembung Malam

Gelembung Malam

  • WpView
    Reads 312
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Nov 20, 2016
Malam itu,sebuah pertanda bagi ku untuk menemuinya. Namun aku yg saat itu tidak tahu,aku malah duduk terdiam di dekat jendela kamar ku. Setelah semua terjadi,aku menyesal. Seharusnya aku mendengar suara para gelembung itu. Dia meninggalkan ku untuk selamanya,dan meninggalkan serpihan hati yang terluka. Ku harap waktu dapat di putar.Dan mengulang semuanya dari awal. Lalu gelembung itu kembali muncul di hadapan ku. Apakah ini sebuah pertanda lagi? Aku menyentuhnya dan gelembung itu pun pecah. Keajaiban pun terjadi.Aku membuka mataku kembali dan melihat sekeliling ku. Ini aneh,seharusnya aku bukan di tempat ini. Lalu,dimana aku sekarang? "Gelembung Malam" By: Fitria25
All Rights Reserved
#5
fitria25
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Balik Kacamata [END]
  • Antara Aksara dan Kata
  • kisah horor: teror jam 12 malam
  • His Pretend Girlfriend (Completed)
  • Ratusan Hari Mencari Hati
  • [COMPLETED] 7 Days
  • Sexy Daddy
  • Sampai Kita Jadian - Love on Repeat
  • Menepi

Hidup di perantauan, jauh dari keluarga, jauh dari rumah, selalu merasa sendiri meskipun ada banyak orang di kota metropolitan yang hampir sama padatnya dengan ibu kota. Perjalanan hidup yang tak mudah, apalagi bagi wanita yang sudah berusia lebih dari seperempat abad sepertiku. Aku kira hatiku sudah mati rasa, tapi sepertinya itu hanya praduga. Tak ada awalan berupa perjodohan maupun ta'aruf, seperti yang pernah aku jalani dulu. Hanya pertemuan alami yang tak terlepas dari kehendak Tuhan. Nyatanya tanpa ku sadari, hatiku perlahan jatuh pada seorang pria berkacamata yang awalnya bahkan tak mendapat perhatian khusus dariku. Perlahan, hal yang biasa berubah menjadi sesuatu yang tidak biasa karena terlalu sering menghabiskan waktu bersama. Satu hal yang terlambat aku sadari adalah kenyataan bahwa setiap manusia memiliki rahasia yang tak diketahui oleh manusia lainnya, begitupun dia. Sesuatu yang tersembunyi rapat di balik kacamata yang ia gunakan. Kacamata itu menjadi dinding pembatas yang menghalangi orang untuk mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya. Pada akhirnya, pilihan tetap berada di tanganku. Mau tetap bertahan atau malah memutuskan untuk pergi?

More details
WpActionLinkContent Guidelines