Promise [1/1]

Promise [1/1]

  • WpView
    Membaca 142
  • WpVote
    Vote 3
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadLengkap Kam, Apr 12, 2018
WpInfo
Non-fiksi
[CERPEN] Sang Bunda menarik napas sejenak, lalu kembali melanjutkan, "Kalau Bunda sudah tidak ada di samping Adelia, janji sama Bunda kalau kamu tidak akan merindukan Bunda. Berbahagialah. Jangan meratap." Adelia hanya menganggukkan kepalanya, disambut pelukan erat Bunda. Adelia tidak tahu, untuk menepati janji itu kepada bundanya tidak sesepele anggukan kepala. Adelia tidak tahu, betapa perih luka yang ia rasakan nantinya, kala bundanya tidak ada lagi di sampingnya. 2016. by grntealatte
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#525
death
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Sudut Luka Nazea
  • I'm Broken (Lengkap)✓
  • The Struggle of Lia and Alben✔
  • ADILA { End }
  • Seribu Kisah | | GORESAN PESAN [COMPLETED]
  • Five wishes! [SM Family]
  • My Baby Triplets✔
  • Antara Aksara dan Kata
  • A L O D I E
  • Mengalah? Gak papa (END)✔

"ketakutan terbesar seorang anak adalah perpisahan orang tuanya. Kehilangan mama dan papa sama halnya dengan kehilangan seluruh napas. Enggak ada mama sama papa rasanya sunyi dan hampa, rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dari apapun. Dunia juga terasa sudah tidak berarti." ~Queenza Nazea Azalea ˚₊‧꒰ა☁️☁️☁️໒꒱ ‧₊˚ Di ajarkan melangkah, meski tertatih-tatih dan berujung jatuh. Di latih menapaki tangga meski berulang kali terhenti karna lelah. Bagi nazea, hal yang paling menyedihkan adalah ketika dihadapkan dengan kehancuran keluarga. Nazea benci perpisahan. Karena nazea tidak suka di tinggalkan. Nazea benci sendirian, karena nazea kesepian. Namun, apa yang sudah retak, akan tetap pecah. Pada akhirnya, meskipun nazea tidak suka, nazea harus menerima. Ada yang mengangkat tangan tinggi-tinggi seraya menjerit tak sanggup, ada yang menyembunyikan kepedihan sekuat mungkin sembari terus menerus mengulas senyum. Karena hanya diperuntukkan dua pilihan, bertahan atau menyerah? Atau lebih tepatnya, mampukah berdiri di atas ubin keikhlasan? "lagi, dunia kembali mempermainkan hidupku. Namun, sampai kapan?"

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan