HUJAN MENJADI SAKSI

HUJAN MENJADI SAKSI

  • WpView
    Reads 1,010
  • WpVote
    Votes 81
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing1h 28m
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 29, 2017
"Baru sekarang lo minta maaf setelah banyak rasa sakit yang udah lo buat? Ini hati! rasa sakit gak akan bisa di bales kata maaf! " rahel menangis semakin menjadi. "Iya gue tau gue salah gue yang selalu nyakitin lo tapi beri gue kesempatan untuk ke 2 kalinya" hans tak kuasa menahan bulir air mata nya hingga jatuh. "Gue mau lo ambil piring itu" rahel menyuruh hans "Oke udah" "Pecahin" "Udah" hans menjatuhkan piring itu hingga berkeping keping "Ucapkan maaf" pekik rahel "Maaf" hans mengatakan nya pada piring "Apa dia balik lagi kayak semula? Jadi piring yang bulat? Setelah kamu ucapkan maaf? Hah? Itu sama kayak hati aku" rahel menangis. "Iya itu gak bakal kembali hel gue tau tapi kan hati lo bukan benda kayak piring! Gue minta gue mau minta kesempatan ke 2 hel gak lebih"
All Rights Reserved
#11
allahswt
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jangan Berpaling Dariku
  • Mr. Soft | HOLD
  • I Love You, Husband
  • Senja Yang Abadi [END]
  • pertemuan dua insan
  • 1/3 percaya x tidak cinta
  • PENULIS TAKDIR TERBAIK
  • #suratcinta | Nura Maisarah (Complete✅)

Berkahwin dengan lelaki yang dia cinta merupakan impian dalam hidup Aina. Bahagia... itu yang dia mahu bersama Benjamin. " Sampah apa yang kau bagi pada aku ni?" kasar suara Benjamin menyoal. Aina mengambil dokumen yang dilemparkan Benjamin di atas meja lalu dia membelek sekali lagi. Rasanya tiada kesilapan yang dia lakukan kerana dia telah menyemak berkali-kali sebelum menghantarnya kepada Benjamin. " Erk... ini kan dokumen yang Encik Benjamin suruh saya buat." Aina membalas perlahan. Dan dia rasa ingin menampar mulut sendiri kerana menjawab. " Ini bukan dokumen yang aku suruh kau buat tapi ini sampah! Benda macam ni patut masuk dalam tong sampah, bukan kat atas meja aku!" Benjamin membentak kuat. Namun hidupnya seakan tercampak ke dalam lembah kedukaan bila Benjamin sering menolaknya jauh dari sisi. Bertahan atau mengalah... apa yang harus dia lakukan? Dibenci suami sendiri, sanggupkah Aina bertahan di sisi Benjamin?

More details
WpActionLinkContent Guidelines