Gerimis Wajah

Gerimis Wajah

  • WpView
    Reads 124
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 28, 2016
Sejak awal, aku tidak pernah takut untuk jatuh cinta meski tahu akan jatuh berkali-kali. Namun tidak kali ini. Semua berlalu begitu cepat, namun tidak tentang perasaanku terhadap seseorang yang mampu membuat aku takut untuk bermain cinta, lagi. Semuanya berawal dari rasa percaya yang selalu saja diakhiri dengan sebuah kekecewaan. Bagaimana tidak kecewa, seseoarang yang kita cintai sesuka hati datang dan pergi hanya untuk mencari kesenangan belaka. Aku selalu menerima karena sayang, dan ia kembalipun karna rindu. Berkali-kali. Tapi tidak kali ini, ia benar-benar pergi. Bersama wanita lain. Dan sekarang, aku terdampar dalam cawan beracun yang pahit tiada tara. Membeku disini, mehanan sebuah rasa sakit yang terus menjalar disetiap tubuhku. Ku sebut itu dengan, rindu.
All Rights Reserved
#376
shortstory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rasa Tanpa Nama
  • [✔️] Anti Romantic ⋆ Jaesahi
  • Angel
  • Tuhan Izinkan Aku Mencintainya
  • REUNI (Enam)
  • (v#1) - Black Qween
  • Perihal Cinta, Kita Semua Bodoh dan Buta
  • Senja Terakhir : Luminous
  • little Girl And Possessive Cool Boy (End)
  • My Perfect Senior [Completed]

Sejak SMP, hanya ada satu nama yang diam-diam mengisi hari-hariku seorang gadis kecil, ceria, dan pintar. Ia selalu menjadi bayangan di benakku, sosok yang tak pernah benar-benar pergi... bahkan hingga hari ini. Tujuh tahun berlalu begitu cepat, namun kenangan bersamanya tetap indah dan tak tergantikan. Mungkinkah aku akan bertemu seseorang sepertinya lagi? Atau mungkinkah aku bisa mencintai orang lain tanpa dia tahu? Aku rasa tidak. Aku bukan tipe yang mudah berpindah hati. Aku tak ingin memberi ruang pada siapa pun untuk menggantikan tempatnya. Aku memilih bertahan, meski tanpa koneksi, tanpa percakapan, tanpa kabar. Bahkan, tanpa tahu apakah dia... atau aku... masih memikirkan nya. Namun, di tengah semua keraguan dan rasa rindu yang terpendam, sebuah pertemuan tak sengaja terjadi. Di saat yang tak terduga, di tempat yang tak pernah kukira, aku dan dia berdiri kembali di satu titik yang sama. Akankah perasaan lama itu kembali menyala? Ataukah semuanya telah berubah... selamanya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines