Coffee Oh Coffee, Nothing Be Something

Coffee Oh Coffee, Nothing Be Something

  • WpView
    Reads 22
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Nov 23, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
Love unlike cup a coffee. Coffee doesn't ask silly question but understand to me. " always" I think that the true my secret lover is coffee. And now love come in my live because a cup coffee " Hujan ini selalu menginggatkanku tentang kenagan pahit itu, entahlah itu kenangan indah yang pernah aku alami selama ini tetapi justru menjadi kenangan pahit yang susah untuk kulupakan, sepertinya baru beberapa waktu lalu aku masih bisa tersenyum, dan sekarang......" Juliea menghembuskan asap rokok berlahan dari mulutnya. Juliea berhenti menulis dan menutup buku diarinya. Juliea menghela napas panjang dan mengambil asbak untuk membuang rokoknya yang sudah mulai habis. Asbak itu sudah beberap bulan ini berada dibawah kolong tempat tidurnya yang memang sengaja disembuyikannya. Siapa yang akan menyangka juliea anak seorang guru, yang terkenal ceria, terkesan terlihat alim ini bisa sampai merokok seperti ini? Di kota kecil seperti ini wanita merokok masih dibilang sangat tabu apalagi mengingat Juliea yang baru saja lulus SMA terbilang masih sangat muda.
All Rights Reserved
#289
coffee
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Coffee Crush | On Going
  • A Cup Of Coffee (Done)
  • PERJODOHAN (Matchmaking) [END]
  • Padi & Jagung✓
  • Kopi & Deadline (On Going)
  • Coffeealona
  • In Your Silence, I Found Home
  • Eyes That Never Looked Back I LingOrm [Bahasa Indonesia]
  • Because Of You.. (Karena Kamu..) I LingOrm

The Coffee Crush Di hari Kavya's Cafe membuka pintunya untuk pertama kali, Falisha Lyria tak pernah menyangka bahwa satu langkah kecilnya masuk ke dalam ruangan itu akan mengubah arah hidupnya. Ia hanya berniat singgah. Memesan kopi. Lalu pulang seperti biasa. Namun ia bertemu Aksananda Kavizra---pemilik kafe dengan cara bicara yang tenang dan keyakinan yang terasa terlalu meyakinkan untuk sekadar kebetulan. Sejak awal, Aksa tak pernah terdengar ragu. Ia berbicara tentang masa depan dengan seolah-olah Falisha sudah ada di dalamnya. Dan bagi seseorang yang tak pernah benar-benar dipilih sebelumnya, kepastian itu terasa seperti rumah. Kedekatan mereka tumbuh tanpa drama. Tanpa tarik-ulur yang melelahkan. Hanya dua orang yang merasa cocok, merasa yakin, merasa seolah semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Namun semakin hari, Falisha mulai menyadari bahwa ada bagian dari cerita Aksa yang tak pernah benar-benar ia dengar. Bukan karena disembunyikan, hanya ... tak pernah diceritakan. Dan dalam setiap hubungan yang terlihat tenang, selalu ada satu hal yang tak kasatmata. Falisha percaya ia adalah awal yang baru. Tapi bagaimana jika ia sebenarnya hanya kelanjutan dari sesuatu yang belum selesai? Atau mungkin, sejak awal ... ia memang tak pernah sendirian dalam cerita itu?

More details
WpActionLinkContent Guidelines