Rasa ketika senja

Rasa ketika senja

  • WpView
    LECTURAS 118
  • WpVote
    Votos 25
  • WpPart
    Partes 3
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, feb 1, 2017
WpInfo
Ficción
Romance
"Siapa?" Gadis itu bertanya pada pria disampingnya. Pria yang kurang lebih telah tiga tahun menemaninya. Menemani gadisnya. "Kamu tanya ke siapa?" jawab pria itu. Ada sedikit kerutan pada dahinya saat mendengar pertanyaan bodoh macam itu. Matanya tidak berhenti berkedip. Seolah meyakinkan dirinya bahwa semua yang difikirkannya adalah khayal. "Saya tanya ke kamu, kamu siapa?" Kali ini pria itu benar-benar terkejut. Memijat sedikit pelipisnya yang sepertinya mengeluarkan keringat. "Tunggu disini, aku panggil dokter dulu." Gadis itu masih termangu. Menatap heran sekelilingnya dan bahkan pada dirinya sendiri. "Kamu sudah sadar, nak?" Pintu tiba-tiba terbuka dengan menghadirkan sosok Ibu yang nampak khawatir. Sebelum gadis itu sempat bertanya pada wanita yang baru saja hadir, dokter datang. Dia sepertinya dokter muda, tampan sekali dan nampak gagah dengan setelan serba putih itu. "Selamat pagi, Indah." Sapa dokter muda itu pada gadis yang berbaring ditempat tidur. Tapi gadis itu tetap terdiam. Seolah tidah ngeh bahwa dirinya yang di sapa. Indah hilang ingatan. Lupa pada Gani dan keluarganya. Padahal pernikahan mereka tinggal satu minggu lagi.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • The Moon Sent You to Me
  • Terjerat obsesi Yandere
  • DIKANESHA
  • Kasat Rasa [Ongoing]
  • Semesta Bersabda // [SUDAH TERBIT]
  • Kizu
  • Still You [END]
  • Awan Abu-Abu [END]
  • Guard Your Hearts

Seharusnya, kekasihnya masih menjalani perawatan di luar negeri setahun terakhir ini. Bukannya berada di kota yang sama dengan Rembulan, berdiri dan berdampingan mesra dengan gadis lain. Mereka berdua tampak cocok, serasi, mengabaikan kehadirannya yang berdiri sendiri. Lantas, ketika keduanya berhadapan dengan Rembulan, mereka abai seolah tak ada apa-apa yang sudah terjalin. Bukankah, sang awan sudah berjanji akan berada di sisi bulannya? Begitupun bulan yang telah menanti awan kembali. Namun, mengapa awan itu berpindah ke yang lain? ** "Agar, kamu udah pulang?" "Hah? Pulang ke mana?"

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido