Let It Flow

Let It Flow

  • WpView
    Reads 730
  • WpVote
    Votes 82
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 26, 2018
Setiap kisah kita adalah seperti melodi-melodi yang mengalun dalam perjalanan hidup. Bersama suka, duka,cinta,persahabatan,ataupun kehidupan itu sendiri. Tetap berbagi kebahagian dan senyuman bersama keluarga, teman , sahabat, kerabat ataupun orang-orang yang berada disekeliling kita. Ya... tetap ceria dan tersenyum. Apakah semudah itu? Apa seperti kenyataannya? Apakah hati juga sejalan? Tidak mungkin tidak ada pengorbanan yang pernah kita lakukan. Untuk alasan itulah aku akan mundur perlahan. Diam... keluar dalam keceriaan dan tenggelam dalam kesepian. Mungkin inilah saatnya aku untuk pergi. Aku harus siap dengan apa yang terjadi. Tapi, saat aku ingin berlari.. sesuatu menghentikanku. Suatu hal besar yang tak pernah kuduga sebelumnya. Aku pikir pengorbananku akan sia-sia. Namun, inilah yang terjadi. Aku ditarik kembali dan aku harus jatuh dalam dilema. ------------------------------------------
All Rights Reserved
#310
religi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Erlangga
  • LOVE STORY IN MELODY
  • Ingkar 🌿|| Ending
  • Still Ours [Hiatus]
  • Fall for You
  • Sekali Lagi (End)
  • Memory Of First Love [Completed] ✓
  • Traces in the Light
  • Garis Singgung
Erlangga

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines