The one and only you (Gie - Nate)

The one and only you (Gie - Nate)

  • WpView
    Reads 183
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing46m
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 1, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
Sekarang gue lagi ngobrol sama Nate, pacar gue, Nate di belakang gue dan.. "Gie, liat depan!" Suruh Nate. Gue madep depan sebentar dan ga ada apa-apa "Ada apaan sih?" "Liat depan!" Gue nengok lagi ke depan dan ga ada apa-apa. Gue nyari apa yang Nate bilang di depan gue, tapi tiba-tiba... *Nate POV* Gue cium pipi Gie, i really kiss her. Dia beku dengan matanya yang melotot. Gua lari ke kelas, karena gua tau Gie nge-fly. ^^ *Gie POV* Disaat itu gua gk tau hrs ngapain... jd gw cm bisa freeze di tempat karena gua ngefly... emng kampret banget tuh si Nate.. Tapi whatever.. gue seneng...!!!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mutowifku Tersayang
  • Jangan Berpaling Dariku
  • TEARSBREAKER
  • BABY ANGEL || Junkyu
  • Putih abu-abu
  • THE LAST POWER
  • Bila Kita Jatuh Cinta
  • TUAH ASMARA

Prolog Mekkah selalu punya cara membuat hati bergetar. Bukan hanya oleh lantunan adzan yang menggema dari Masjidil Haram, bukan pula oleh jutaan langkah yang berputar mengelilingi Ka'bah tanpa henti. Tapi oleh sesuatu yang tak pernah bisa dijelaskan-takdir yang Allah titipkan di antara doa dan air mata. Namaku Fadhlan. Aku seorang mutowif-memandu para tamu Allah yang datang dari berbagai negeri untuk menunaikan ibadah Umrah. Tugasku sederhana: membimbing mereka membaca niat, menuntun langkah mereka dalam thawaf dan sa'i, serta memastikan perjalanan ibadah itu lancar dan terjaga. Namun, dalam perjalanan yang lalu, tugasku berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Aku masih ingat saat pertama kali menatapnya. Seorang wanita muda, sederhana dalam balutan kerudung putih, tapi wajahnya memancarkan cahaya yang menenangkan. Senyumnya tipis, lembut, seperti doa yang dipanjatkan dalam diam. Ia datang bersama ibunya, meninggalkan ayah yang sedang sakit keras di tanah air. Namanya... Melati. Sembilan hari bersama rombongan Umrah seharusnya hanya meninggalkan kenangan singkat, sebagaimana biasanya. Tapi hari-hari itu menumbuhkan sesuatu yang berbeda. Sebuah perasaan yang anehnya, bukan mengganggu ibadahku, melainkan justru membuat setiap doa terasa lebih hidup. Namun, Allah punya cara sendiri menjaga rahasia-Nya. Ada kalanya doa yang kita panjatkan terasa menggantung di langit, tanpa jawaban. Ada kalanya cinta yang tumbuh justru diuji dengan jarak, waktu, dan keraguan. Dan aku... hanya bisa berserah. Kini setiap kali aku berdiri di hadapan Ka'bah, aku selalu mengingatnya. Wajah itu, senyum itu, doa-doanya. Entah di mana ia berada, entah bagaimana takdir menuliskannya. Yang kutahu, namanya tetap hidup dalam hatiku. Mutowifku tersayang... begitu ia pernah menyebutku dalam candanya. Sebuah panggilan yang sederhana, tapi cukup untuk membuat setiap langkahku terasa berarti.

More details
WpActionLinkContent Guidelines