The Next Sacrifice

The Next Sacrifice

  • WpView
    Reads 56
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 18, 2017
Hidup pada masa dewasa? Hanya diri sendiri yang bisa memahaminya. Cinta? Awal yang yang membuat diri ini berbeda. Tak tahukah kau apa yang membuat hati ini mampu untuk mencoba sesuatu yang sebelumnya belum pernah aku rasa? .. -Livia- Bruukkk.. "Aaww, kau? Apa yang kamu lakukan disini?" "Aku, aku hanya ingin menemuimu untuk membicarakan sesuatu yang penting denganmu." Katanya sembari membantuku berdiri namun aku menepis tangannya. Aku tak percaya sekarang dia ada dihadapanku, dengan tatapan sendu. Aku tak mengerti apa yang ingin dia katakan padaku. "Kini kita sudah bukan apa-apa lagi. Dan kau, kau tak perlu menemuiku lagi. Kau pikir aku mau menemuimu lagi setelah kejadian itu? Tidak!" -Argana- Itu dia, milikku, istriku dan akan selalu begitu. Dia memunggungiku dengan gaun pendek kuningnya yang sangat cocok dia kenakan. Jika saja semua kembali baik seperti semula, jika saja kami tak mengalami ini, sudah 1 tahun berlalu ketika kejadian itu. Brukkkk.. Dia menabrakku, aku yang melamunkan sesuatu tak menyadari jika aku telah melangkah terlalu dekat dengannya tadi. Langsung saja aku mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Namun dia menolak bantuanku itu. "Aaaww, kau? Apa yang kamu lakukan disini?" Katanya sembari berdiri. "Aku, aku hanya ingin menemuimu untuk membicarakan sesuatu yang penting denganmu." Kini kutatap matanya, mata indah yang dulu membuatku jatuh cinta, mata indah yang setiap saat selalu kurindukan, mata itu sekarang menatapku dengan penuh kebencian, amarah. Tuhan, kuatkan tekadku untuk membicarakan ini semua,maafkan aku sayang, maaf karna melakukan ini semua padamu. "Kini kita sudah bukan apa-apa lagi. Dan kau, kau tak perlu menemuiku lagi. Kau pikir aku mau menemuimu lagi setelah kejadian itu? Tidak!" Bentaknya. "Fia,dengarkan aku dulu, aku tau kamu pasti akan seperti ini. Tapi dia, dia punya keadaan yang berbeda!"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • HEARTBREAKING (On Going)
  • Cinta untuk Lluvia
  • Mungkin? (Tamat)
  • Semu [Completed]
  • Regrets of Love
  • FIZYA
  • Sekali Lagi (End)
  • Let Me Love You Longer
  • Diksi Matahari ⛅ (TAMAT)

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines