Story cover for Diatas Awan by nabillaint
Diatas Awan
  • WpView
    MGA BUMASA 7,808
  • WpVote
    Mga Boto 155
  • WpPart
    Mga Parte 4
  • WpView
    MGA BUMASA 7,808
  • WpVote
    Mga Boto 155
  • WpPart
    Mga Parte 4
Kumpleto, Unang na-publish Nov 30, 2016
Mendaki ?

Apa yang terlintas dalam pikiranmu saat mendengar kata mendaki ?

Membuang waktu, uang, bahkan tenaga ? iya kan ?

Mungkin kebanyakan orang yang belum pernah berkegiatan alam akan menilai sebagian kelompok pendaki itu tidak penting. Sedikit sekali orang bisa memahami sekitarnya sebelum ikut berkegiatan langsung atau mengalaminya sendiri. Maklum lah sudut pandang orang berbeda - beda

Cobalah berinteraksi dengan alam, maka kau akan menghargai alam dan kehidupanmu :)
All Rights Reserved
Sign up to add Diatas Awan to your library and receive updates
o
#22nature
Mga Alituntunin ng Nilalaman
Magugustuhan mo rin ang
Lembah Arunika  ni uyungfauziyah
17 parte Kumpleto
Dina hanya ingin lari sejenak. Dari rumah. Dari kampus. Dari masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Maka ia mengajak empat temannya-Bagas, Ayu, Raka, dan Tari-untuk mendaki Gunung Mahesara, gunung yang katanya penuh legenda, namun jarang tersentuh wisatawan. Lima remaja dari latar dan budaya berbeda, menyatu dalam perjalanan menuju puncak. Awalnya, ini hanyalah perjalanan tentang alam, peluh, dan keheningan hutan. Namun segalanya berubah ketika mereka menemukan sebuah percabangan jalur: satu jalur resmi, satu lagi tertutup semak dan larangan. Dari sinilah semuanya bermula. Kabut turun. Kompas tak lagi bekerja. Hutan mulai berbicara. Mereka tersesat di tempat yang tak ada dalam logika-Lembah Arunika, dunia tersembunyi yang hanya muncul bagi mereka yang memikul beban tergelap. Di lembah itu, sihir bukan dongeng. Makhluk gaib dari mitologi lokal bukan sekadar cerita rakyat. Mereka nyata. Hidup. Dan menjaga keseimbangan dunia yang mulai retak. Kelima sahabat ini harus menghadapi rintangan demi rintangan-bukan hanya melawan kekuatan jahat yang mengancam lembah, tetapi juga menghadapi sisi tergelap dalam diri mereka masing-masing: kemarahan, penyesalan, ketakutan, dan kesalahan yang tak pernah mereka maafkan. Dalam perjalanan yang penuh luka dan kehilangan, mereka mulai bertanya: Apakah lembah ini benar-benar dunia lain-atau justru cermin dari hati yang terluka dan ingin disembuhkan? Dan di tengah kabut yang tak kunjung sirna, satu pertanyaan terus bergema: Apakah mereka akan menemukan jalan keluar-atau justru menjadi bagian dari lembah itu selamanya?
Magugustuhan mo rin ang
Slide 1 of 10
Lembah Arunika  cover
Goresan Seorang Pengembara cover
KUALAT GUNUNG MERAPI cover
Pendakian Berujung Maut  cover
In The Sunrise cover
memories never die cover
Petualangan 7 sahabat cover
Posesif Sister Laksani Natio  cover
Dilema kakak baru cover
Dekapan (TAMAT) cover

Lembah Arunika

17 parte Kumpleto

Dina hanya ingin lari sejenak. Dari rumah. Dari kampus. Dari masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Maka ia mengajak empat temannya-Bagas, Ayu, Raka, dan Tari-untuk mendaki Gunung Mahesara, gunung yang katanya penuh legenda, namun jarang tersentuh wisatawan. Lima remaja dari latar dan budaya berbeda, menyatu dalam perjalanan menuju puncak. Awalnya, ini hanyalah perjalanan tentang alam, peluh, dan keheningan hutan. Namun segalanya berubah ketika mereka menemukan sebuah percabangan jalur: satu jalur resmi, satu lagi tertutup semak dan larangan. Dari sinilah semuanya bermula. Kabut turun. Kompas tak lagi bekerja. Hutan mulai berbicara. Mereka tersesat di tempat yang tak ada dalam logika-Lembah Arunika, dunia tersembunyi yang hanya muncul bagi mereka yang memikul beban tergelap. Di lembah itu, sihir bukan dongeng. Makhluk gaib dari mitologi lokal bukan sekadar cerita rakyat. Mereka nyata. Hidup. Dan menjaga keseimbangan dunia yang mulai retak. Kelima sahabat ini harus menghadapi rintangan demi rintangan-bukan hanya melawan kekuatan jahat yang mengancam lembah, tetapi juga menghadapi sisi tergelap dalam diri mereka masing-masing: kemarahan, penyesalan, ketakutan, dan kesalahan yang tak pernah mereka maafkan. Dalam perjalanan yang penuh luka dan kehilangan, mereka mulai bertanya: Apakah lembah ini benar-benar dunia lain-atau justru cermin dari hati yang terluka dan ingin disembuhkan? Dan di tengah kabut yang tak kunjung sirna, satu pertanyaan terus bergema: Apakah mereka akan menemukan jalan keluar-atau justru menjadi bagian dari lembah itu selamanya?