Selamat Malam Dunia Malam

Selamat Malam Dunia Malam

  • WpView
    Lectures 291
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Chapitres 4
WpMetadataReadContenu pour adultesTerminé sam., déc. 24, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
Ada saat kita menjadi asing sendiri tanpa terlalu berdalih untuk saling membutuhkan. Ada saatnya rasa merenggut asa dan menderai pilu. Ada saatnya pula semua waktu berucap selamat tinggal. Ini bukan soal kegelisahan atau keresahan yg bergumam erat dipundak kesendirian.Sendiri? oh bukankah itu rasa yg teramat sulit untuk dibekukan? hah? siapa bilang? Aku berlanjut tanpa sebuah genggaman untuk menuntunku atau sebuah dada yg melabuhkan rinduku. Aku hanya sedikit heran tentang keegoisan yg kerap kali disangkut pautkan dgnku, dgn kesendirianku. Bejubel pertanyaan selalu menghajar hatiku ba' Air terjun tanpa berpikir ada sungai yg teluka. "Egois" Delia, sahabat karibku dri masa ingusan mencapkan kata itu didahiku. Mugkin alasannya agar setiap bertemu dgnku dia tidak amnesia dgn kata itu. "Sumpah ! aku tidak pernah melihat sosok makhluk yg begitu gila sepertimu" Mantan pacarku Ryan. Yg sebenarnya aku rada malas mengikut sertakan dia, tp ya harus karena dia juga tlah berlalu n mninggalkan 1 kalimat itu untuk ku telan seumur hidup. "Parah loe" Fransiska, anak yg super sok tahu padahal kenalnya baru seuprit jagung. "Berubahlah nak" Nyonya besar dirumahku ikut2 membully anak satu2nya perempuannya. "Biarkan ! Papa bangga kepadamu." Ini yg selalu dikatakan Raja diistana kecilku. Mungkin mmg terlalu alay, tp yah.. suka-suka aku dong... Aku memang memiliki tingkat kepedulian yg tinggi juga tingkat keegoisan yg tinggi, bagiku aku ini seperti bunglon yg bisa berubah disembarang tempat dgn situasi n kondisi yg memungkinkan. Lalu apa salahku? Tidak ! aku tidak salah. Setidaknya aku tidak pernah ngejudge org lain, tidak jg ambil pusing dgn segepok lembaran diary teman2ku yg sibuk menuliskan kebencian mereka kepadaku, "whatever". Aku jg tidak pernah mencoret2 buku demi hanya melampiaskan amarahku kepada sosok kaum adam yg selama ini meledek n menghujat aku. Jika waktu kecil aku dijuluki siAir Bening, maka sekarang aku mengganti julukanku menjadi siApi Dingin. Kenapa??
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • ALVIN (On Going)
  • I'm More Than Just A Princess
  • Mamaku Mantan Antagonis (Tamat)
  • BYE, MANTAN! (TAMAT)
  • Can't Break (END) KTH✔
  • Lady Antagonis (TAMAT)
  • Dinamika Ditengah Arus Waktu
  • Setelah Hujan ( End ✔)
  • Canvas of Love
  • Mahligai Sunyi

⚠️FOLLOW SEBELUM MEMBACA⚠️ [ Berkomentar dengan sewajarnya, hargai siapapun orangnya dan apapun yang ia tulis ] Belum di revisi. [TANDAI TYPO!!] ________ Carilah orang-orang yang bisa membawa kamu ke jalan yang seharusnya kamu lewati untuk sampai pada tujuan yang baik. Banyak orang jahat berkeliaran hanya untuk kesenangan mereka pribadi, bahkan dalam keluarga sendiri pun masih sering orang yang melampiaskan masalahnya pada anggota keluarga yang tidak tahu apa-apa. Dan diposisi inilah aku hidup sebagai anak perempuan tunggal kaya raya, tetapi miskin kasih sayang. Sampai akhirnya, aku dipertemukan dengan seorang lelaki tangguh yang mengubah kehidupan ku hampir sepenuhnya. Ia benar-benar berbeda dari ayahku, padahal banyak sekali orang yang mengatakan bahwa jodoh seorang anak perempuan adalah cerminan dari seorang ayahnya. Aku sempat percaya dan takut dengan pepatah itu, sampai aku tidak menginginkan berjodoh dengan siapapun karena takut jodohku sama dengan watak ayahku. Namun nyatanya, itu hanyalah tipu daya manusia. Aku sekarang tidak akan percaya dengan pepatah yang belum tentu ada buktinya. Meskipun begitu rumornya, aku akan tetap menyayangi kedua orang tuaku yang telah membesarkanku. Aku pikir penderitaan ku cukup sampai disitu, Namun ternyata aku salah besar. Ada saatnya kita ditinggalkan oleh orang-orang yang kita sayang selama di dunia ini, mereka telah kembali pulang ketempat yang sudah seharusnya menjadi rumah terakhir. Tidak ada yang abadi di dunia ini, semuanya hanya sementara, tinggalah tanah yang rata dengan dunia. Aku tidak sekuat dan seberuntung orang lain diluaran sana, selalu ada saja cobaan yang mendatangiku satu-persatu. Aku selalu berjuang mati-matian untuk kehidupan ku sendiri agar merasa lebih baik dari sebelumnya, tapi tetap saja aku tak pandai menyelesaikannya, aku berusaha untuk hidup dan bangkit sendiri dari keterpurukan ini. WARNING!: DILARANG COPY/PASTE CERITA INI KARNA INI MURNI KARYA SAYA, JIKA ADA YANG COPPAST LAPORKAN KEPAD

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu