Mangata

Mangata

  • WpView
    Reads 836
  • WpVote
    Votes 44
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 5, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Bukan karena aku tak punya hati. Bukan pula karena aku mengidap syndrome philophobia. Hanya saja, aku memiliki seseorang pemilik hati dimasa kecilku. Namanya Arka, artinya matahari. Dulu aku pemalu dan pendiam, lalu dia menyelinap masuk ke kehidupanku dan mengajarkan aku caranya hidup. Lalu, 6 tahun yang lalu, tepat saat kami berusia 10 tahun, ia meninggal. Kemudian, sekian lama aku menutup hati, seseorang mencoba membukanya paksa. Dia, mangata-ku ...
All Rights Reserved
#115
adalah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ternyata Takdirku adalah Kamu
  • Moonlight
  • Be My Endless
  • MATAHARI dan BULAN [END] [TERBIT]
  • "Sebenarnya Apa Yang Kau Harapkan Dari Takdir?"  [END]
  • Tanda Tanya
  • Just a Friend to You
  • Relationshit (Completed)
  • DikaRanggi
  • My Different Girlfriend (END)

JANGAN LUPA FOLLOW YA... terimakasih sudah mampir Ada cinta yang tidak perlu diumbar, cukup diam-diam mendoakan dari kejauhan. Karena kadang, mencintai yang paling dalam adalah saat memilih untuk menjauh. Aku, Cilla, gadis biasa yang sebentar lagi akan memulai hidup baru di UIN Rafah. Di usia delapan belas ini, hidupku seperti perjalanan kereta yang tak pernah berhenti di stasiun yang sama dua kali. Termasuk stasiun bernama Arsan. Dia pernah singgah. Pernah menjadi alasan senyumku setiap pagi. Pernah menjadi orang yang paling aku percaya. Tapi kami memilih pergi. Bukan karena tidak saling mencintai, tapi karena tahu: terlalu dekat bisa membuat segalanya salah arah. Kami memilih menjaga, meski harus saling menjauh. Dan kini, setelah waktu membawa kami ke dunia yang berbeda... Aku masih menyebut namanya dalam sujud terakhirku. Sementara aku tak tahu, apakah dia juga menyebut namaku saat langitnya mendung dan hatinya sunyi. Mungkin kami sedang menguji takdir. Atau... mungkin takdir sedang menguji kami. Karena jika benar cinta ini suci, maka tak perlu digenggam erat untuk dimiliki. Cukup dipercayakan kepada Allah. Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengannya, aku ingin bertanya satu hal: "Masihkah kamu menganggapku takdirmu, seperti dulu?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines