Beautiful Women

Beautiful Women

  • WpView
    Reads 172
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 7, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
The story is based on my own thinking and imagination. Please report to me if you found others who copy my story. DON'T COPY MY STORY! Vian Mehmed Aku dan dia di pertemukan secara tidak sengaja dan mungkin juga terdengar biasa - biasa saja. Aku akui perasaan itu semakin lama semakin berkembang layaknya sebuah bunga yang bermekaran dan aku tidak berpikir bunga juga bisa layu dan pergi seperti debu yang menghilang tanpa jejak, seperti kehadirannya bagaikan bunga. Sedari awal memang salahku yang membuatnya pergi di saat perasaan ini semakin dalam dan kuat. Adinda Heelshire Di satu sisi aku menyesal telah bertemu dengannya, di sisi lain aku bersyukur telah bertemu dengannya yang membuat hidupku lebih indah. Kenapa takdir harus membawaku ke dalam rasa sakit ini lagi?. Sepertinya aku tidak berhak bahagia walaupun hanya satu hari saja. Saat aku masih menjadi gadis kecil, aku berharap cepat tumbuh dewasa tetapi setelah mengatahui hidupku akan seperti ini. Aku lebih baik menjadi gadis kecil seumur hidupku dan merasakan kasih sayang kedua orang tuaku.
All Rights Reserved
#231
inggris
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • SO PRECIOUS (PART COMPLETE)
  • FRIENDzone (Completed)
  • Coffee Of My Life
  • please stop it!! [Ending]
  • THE UNYIELDING  [END]
  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • Hopeless

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines