Sang Perantau

Sang Perantau

  • WpView
    Membaca 32
  • WpVote
    Vote 3
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Des 6, 2016
Tak kenal maka tak sayang begitupun orang orang menyebutnya. Namaku Aisyah yang bercita cita menaikkan derajat keluarga khususnya orang tua. Aku dilahirkan di sebuah desa di sulawesi. Aku dibesarkan didesa nun jauh disana, desa dimana angin berhembus, udara pagi yang segar, burung burung berkicau bersahut sahutan, langit pun pagi itu tersenyum lebar melihat semangat ku yang tak pernah putus untuk menimba ilmu. walaupun harus ditempuh dengan jalan kaki sejauh 10 km dari rumah tetap kujalani, keringat menetes disekujur tubuhku. Tapi itu semua tak menghalangi sedikitpun semangat ku.Setiap hari kulakukan kewajibanku, kulaksanakan tugas sebagai pelajar untuk belajar. Niat ku untuk membahagiakan kedua orangtua selalu terpintas dalam benak setiap hari. Detik demi detik, hari demi hari, bahkan tahun demi tahun tetap kujalani, sampailah pada akhirnya Ujian Nasional untuk kelulusan SMP. Alhamdulillah aku salah seorang anak yang berprestasi sehingga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan SMA ke salah satu sekolah favorit dipulau Jawa. Senang rasanya impianku terwujud, satu langkah lebih maju untuk semangat perubahan. Tapi pedih menyayat hati jikalau harus meninggalkan kedua orangtua, adik, kakak. Apa lagi yang harus ku perbuat, ku bulatkan tekad merantau ditanah orang untuk mencari ilmu yang setinggi tingginya. Hari itu aku harus berpamitan dengan Ibu Bapak, sanak saudara. Tidak kuat menahan rasa sakit, air mata pun jatuh disekujur pipiku. Aku dibekali semangat, ku rela hal ini terjadi, aku yakin akan berusaha sepenuh hati dan bekerja keras supaya kelak dimasa depan aku bisa mebahagiakan mereka dan membuat mereka bangga padaku. Sekarang aku Aisyah menjadi sang gadis perantau, begitulah orang orang menyebutnya. sekian
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Rahma & Yana
  • Badgirl Vs Ketos(ongoing)
  • Don't Talk About Money
  • ALLAND
  • Sadness
  • "PERJUANGAN CINTA BEDA AGAMA"
  • ANNISA {ON GOING}
  • Di Balik senyumanku
  • Assalamualaikum Cinta
  • Saya, Awak dan Malaysia Kala Itu

Layang-layangku hampir putus. Menarik atau menggulungnya sama-sama berisiko. Benangnya telah berada di ujung tanduk. Satu hentakan saja layang-layang itu akan terbang mengikuti angin, tanpa kendali. Ia akan terbang mengitari langit luas sesukanya. Sebebas-bebasnya. Lalu, terjun bebas ke bawah saat angin tidak lagi menjadi teman. Melepaskannya tanpa memandang ke wajahnya. Dan tidak mungkin juga aku bertahan di sini, menanti layang-layang turun sendiri. Aku menghela napas. Ini layang-layang terakhirku. Bila akhirnya layang-layang ini putus, tidak ada lagi layang-layang berikutnya. Tidak ada lagi kisah selepas Ashar, sepulang dari Madrasah, aku berlari ke rumah. Berganti pakaian lalu meluncur ke lapangan sekolah seluas dua kali lapangan voli seraya menenteng layang-layang. Tidak ada lagi kisah aku berlomba lari dengan Rehan dari Madrasah menuju rumah. Melalui jalanan lurus ke timur lalu tikungan tajam ke kiri. Bertelanjang kaki menantang tajamnya kerikil-kerikil jalanan.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan