Sejak kecil hingga usia 22 tahun, aku tumbuh di tengah lingkungan yang tak pernah benar-benar menjadi rumah bagi jiwaku. Tempat di mana kata-kata yang seharusnya menenangkan justru menjelma peluru yang perlahan namun pasti meruntuhkan ketahanan mentalku. "Boros banget." "Makan enak terus, kami aja nggak kayak gitu." "Skripsi belum kelar juga?" "Makanya jangan malas, cepat selesaikan kuliah." "Sudah waktunya wisuda, jangan buang-buang waktu." Ucapan-ucapan itu, yang dilontarkan berulang tanpa jeda, bukan lagi bentuk perhatian, melainkan luka yang diam-diam membusuk dan mengakar dalam. Aku belajar untuk diam, belajar berpura-pura kuat, menelan kepedihan dalam senyap. Sementara waktu istirahatku habis, bukan untuk bermalas-malasan, melainkan untuk membuktikan bahwa aku berusaha, walau tak pernah cukup di mata mereka. Namun dalam keheningan yang panjang itu, satu tanya terus menggema dalam batin: Sampai kapan aku harus bertahan sendirian dalam sunyi?
More details