who i am ?

who i am ?

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 7, 2016
Prolog Aku kecil, polos bahkan terkadang dicemooh "sok alim", ya kata-kata itu sangat melekat dijiwa ku. Keras kepala telah ada diragaku saat kecil, ntah sifat itu diwariskan dari siapa. Semenjak kecil aku diajarkan untuk seperti orang yang berpendidikan namun tetap memiliki jiwa sosial. Bukan orangtua melainkan seorang keluarga. Bahkan aku tak pernah mendapatkan sentuhan kasih sayang saat masa kecilku. Saat usiaku menginjak 2 tahunan aku tidak tinggal dengan kedua orangtuaku. Berbeda dengan anak lain yang seusiaku, yang mungkin kala itu mereka didongengkan sebelum tidur dan diberi kecupan hangat dari seorang ibu. Hidup menjadi anak kedua dan memiliki postur tubuh, kepribadian, serta face yang berbeda diantara kakak dan adikku. Karena hal itu, aku selalu diberikan pertanyaan yang seharusnya tidak perlu dijawab. Pertanyaan itu adalah "Uki anak siapa? Kok nggak mirip dengan ayah sama ibumu? Apa kamu dulu dipungut atau boleh nemu disampah?". Aku dicekokkin pertanyaan itu sejak usia 6 tahun sampai saat ini. Ntah, apa yang harus kujawab. Melewati masa sekolah yang sangat abstrak.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mah... Udah, Ya (TAMAT)
  • BABY TOMY
  • serpihan hati
  • don't leave daddy CH2 (END)
  • EIRENĘ
  • ALA
  • [EXO ff] Dady Saranghae
  • New Possessive Family
  • Shaffira ✔ (KBM & KARYAKARSA)
  • Home (Completed) (Repost)

Sejak kecil hingga usia 22 tahun, aku tumbuh di tengah lingkungan yang tak pernah benar-benar menjadi rumah bagi jiwaku. Tempat di mana kata-kata yang seharusnya menenangkan justru menjelma peluru yang perlahan namun pasti meruntuhkan ketahanan mentalku. "Boros banget." "Makan enak terus, kami aja nggak kayak gitu." "Skripsi belum kelar juga?" "Makanya jangan malas, cepat selesaikan kuliah." "Sudah waktunya wisuda, jangan buang-buang waktu." Ucapan-ucapan itu, yang dilontarkan berulang tanpa jeda, bukan lagi bentuk perhatian, melainkan luka yang diam-diam membusuk dan mengakar dalam. Aku belajar untuk diam, belajar berpura-pura kuat, menelan kepedihan dalam senyap. Sementara waktu istirahatku habis, bukan untuk bermalas-malasan, melainkan untuk membuktikan bahwa aku berusaha, walau tak pernah cukup di mata mereka. Namun dalam keheningan yang panjang itu, satu tanya terus menggema dalam batin: Sampai kapan aku harus bertahan sendirian dalam sunyi?

More details
WpActionLinkContent Guidelines