Story cover for TroubleMaker by GaluhPujantikaV
TroubleMaker
  • WpView
    Reads 265,511
  • WpVote
    Votes 11,240
  • WpPart
    Parts 43
  • WpView
    Reads 265,511
  • WpVote
    Votes 11,240
  • WpPart
    Parts 43
Complete, First published Dec 08, 2016
Mature
Gladis Anggia Wiratama gadis manis, cantik, dan pintar bertemu dengan seorang cowok bernama Kevin Pradipta Kaslavo murid brandal yang disegani satu sekolah. Yang notabenya adalah badboy SMA Nusantara. Siswa yang paling disegani satu sekolah.

Cerita ini mengisahkan masa putih abu-abu disekolah dan  persahabatan.


Ps. Cerita ini terinspirasi dari novel laris karya Erisca Febriani "Dear Nathan" JADI MEMANG AGAK MIRIP DENGAN DEAR NATHAN. Jadiii yuuk para Dear Nathan Lovers baca cerita ini, kali aja keinget sama Nathan Salma hehe
All Rights Reserved
Sign up to add TroubleMaker to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
Rindu Senin Pagi by Rizardila
25 parts Complete
Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Kisahku, perempuan bodoh yang terpaksa duduk sebangku dengan laki-laki pintar yang menyebalkan. -- Aku mencarinya di dalam tas, semua isi tas kukeluarkan dan kuletakkan di atas meja. Namun tetap tidak ada. Aku mencari di kolong meja, mencari di bawah meja dan bawah kursi. Hingga sepertinya laki-laki di sebelahku terganggu dengan keribetanku. "Ribet banget." Katanya datar sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Aku menoleh ke arahnya sebentar "Apaan, sih, lu?" Balasku kesal. Lalu lanjut lagi mencari-cari pulpenku di dalam tas. Aku ingat betul selalu meletakkan pulpenku di bagian depan tas. Namun pagi ini entah kenapa ia menghilang. "Kaya enggak ada pulpen lain aja." Ucapnya sinis. "Apaan, sih? Orang gue cuma punya satu! Lagian, lu, temennya lagi susah nyari pulpen, bukannya bantu, malah nyinyir." Balasku kesal. Ia menoleh ke arahku. "Mana ada pelajar ke sekolah cuma bawa pulpen satu?!" "Gue cuma bawa satu." Terdengar suara salah satu siswa yang duduk di bagian belakang. "Gue juga bawa pulpen satu doang." Terdengar suara siswa yang lainnya. "Denger, kan, lu? Bukan cuma gue yang bawa satu pulpen ke sekolah. Banyak! Makanya jangan samain orang-orang sama lu. Mentang-mentang rajin, teliti, rapih, dan semua alat tulisnya lengkap!" "Bawel!" Ketusnya sambil membuka buku catatannya. Ia mulai fokus dengan buku catatannya itu. "Yaudah gue pinjem pulpen lu, satu." "Gue cuma bawa satu." Jawabnya pelan. "Bintaaaang!" Teriakku. Bintang terkejut melihatku. Dan sepertinya seluruh siswa di kelas juga menoleh ke arahku. Termasuk Bu Vivi yang sedang duduk di kursi guru. Aku tertunduk malu setelah tidak sengaja membentak Bintang yang tingkahnya selalu saja seperti minta dimaki-maki.
Transmigrasi Darya [PRE-ORDER] by lucasneo456
53 parts Complete
[Follow dulu sebelum baca!] ⚠️Plagiat dilarang mendekat⚠️ ⚠️SUDAH TERSEDIA DI SHOPEE DENGAN ENDING YANG BERBEDA DAN ALUR YG BERBEDA!!⚠️ Maaf bila ada kesamaan nama tokoh, tempat dan alur, itu unsur ketidak sengajaan. Cerita ini murni dari imajinasi saya sendiri🙏 ----------------------------------------------------------- Bagaimana jadinya jika seorang gadis yang sifatnya seperti bunglon yang sering berubah-ubah kadang tomboy, cute, polos, bar-bar dan juga penyuka cogan masuk dunia novel?! "Gue gabut enaknya ngapain yah, aha! gue kepo sama rasa sabun batang, gue cobain aja kali ya" monolog Darya Darya pun langsung berjalan ke arah kamar mandinya dan mengambil salah satu sabun batang yang berwarna. "Anjayy harum banget, coba gue makan ah siapa tau enak kalo enak kan bisa pamer di sosmed haha " ucap Darya pada diri sendiri. Darya pun langsung memakan sabun batang yang berwarna itu dengan cara di gigit. Setelah selesai memakan sabun Katia memilih meminum susu putih di botol. "Gila gak enak ternyata rasa sabun, gue pikir bakal enak karena baunya aja udah enak nyatanya kagak. Ini lagi perut gue ngapa gak enak si" gerutu Darya "Ini dada kenapa sesak, nafas gue tiba tiba menipis" "Ngik ngik ngik" "Ajigile, nafas gue bengek" "Kayaknya gue udah mau meninggoy tapi gak elit banget meninggoy cuma karena sabun batang. Yakali 'seorang anak meninggal karena memakan sabun batang' duh kok omongan gue ngelantur si" ucap Darya "Tuhan kalo ini akhir hidup ku tolong jaga orang tua ku, mamah papah makasih udah rawat Darya dari kecil, Darya sayang kalian" ucap Darya dengan nafas tersengal-sengal. Mata Darya pun tertutup dan Kemudian hanya ada kegelapan yang menyelimuti Darya ________________________________________ ⚠️Banyak Kata-kata kasar! Harap bijak dalam membaca!⚠️ #1 fiksipenggemar (50722) #3 psikopat (150722) #9 remaja (80722) #2 mostwanted (200722) #3 ketos (50722) #8 fiksiremaja (60722) #9 teens (230722) #7 gengmotor (50722) #1 coldboy
You may also like
Slide 1 of 10
Rindu Senin Pagi cover
Ruang Tanpa Suara cover
REANDRA [END] cover
GARENDRA cover
Transmigrasi Darya [PRE-ORDER] cover
Badai Tak Berujung [ON GOING] cover
AKSAFA (End) cover
Nathan; Cinta untuk Raisa (Selesai) cover
Nissa & Nathan (COMPLETED) cover
My Cold Crush - Complete cover

Rindu Senin Pagi

25 parts Complete

Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Kisahku, perempuan bodoh yang terpaksa duduk sebangku dengan laki-laki pintar yang menyebalkan. -- Aku mencarinya di dalam tas, semua isi tas kukeluarkan dan kuletakkan di atas meja. Namun tetap tidak ada. Aku mencari di kolong meja, mencari di bawah meja dan bawah kursi. Hingga sepertinya laki-laki di sebelahku terganggu dengan keribetanku. "Ribet banget." Katanya datar sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Aku menoleh ke arahnya sebentar "Apaan, sih, lu?" Balasku kesal. Lalu lanjut lagi mencari-cari pulpenku di dalam tas. Aku ingat betul selalu meletakkan pulpenku di bagian depan tas. Namun pagi ini entah kenapa ia menghilang. "Kaya enggak ada pulpen lain aja." Ucapnya sinis. "Apaan, sih? Orang gue cuma punya satu! Lagian, lu, temennya lagi susah nyari pulpen, bukannya bantu, malah nyinyir." Balasku kesal. Ia menoleh ke arahku. "Mana ada pelajar ke sekolah cuma bawa pulpen satu?!" "Gue cuma bawa satu." Terdengar suara salah satu siswa yang duduk di bagian belakang. "Gue juga bawa pulpen satu doang." Terdengar suara siswa yang lainnya. "Denger, kan, lu? Bukan cuma gue yang bawa satu pulpen ke sekolah. Banyak! Makanya jangan samain orang-orang sama lu. Mentang-mentang rajin, teliti, rapih, dan semua alat tulisnya lengkap!" "Bawel!" Ketusnya sambil membuka buku catatannya. Ia mulai fokus dengan buku catatannya itu. "Yaudah gue pinjem pulpen lu, satu." "Gue cuma bawa satu." Jawabnya pelan. "Bintaaaang!" Teriakku. Bintang terkejut melihatku. Dan sepertinya seluruh siswa di kelas juga menoleh ke arahku. Termasuk Bu Vivi yang sedang duduk di kursi guru. Aku tertunduk malu setelah tidak sengaja membentak Bintang yang tingkahnya selalu saja seperti minta dimaki-maki.