Quarter
  • WpView
    Reads 123
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 16, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
Apa kabar matahari? Aku pernah berjuang demi cahaya matahari. Tapi bulan? Ia tak pernah berterima kasih kepadaku. Dan diriku? Aku rela menjadi bayangan diantara bulan dan matahari. Walau sulit menentukan bagaimana wajah bulan sebenarnya. Tapi aku yakin, matahari bahagia karena bulan. Jarak kita pernah dekat, namun lupa. Waktu memutarnya. Menjadi 15 bagian. Detiknya? Aku bisa rasakan Putarannya? Aku bisa lihat Tapi saat itulah kenaifanku bercampur aduk dengan kebodohanku. Diantara bayangan atau kenyataan, setidaknya aku pernah merasakannya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Bulan [End]
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Mawar Matahari
  • Shorts Story
  • Sefrekuensi {ON GOING}
  • DiaNda (END)
  • ALETHA ( Completed )

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines