Story cover for Trust Me by dhianfebast
Trust Me
  • WpView
    LECTURES 127
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Chapitres 4
  • WpView
    LECTURES 127
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Chapitres 4
En cours d'écriture, Publié initialement déc. 10, 2016
Stevant Ryant, yang sehari-harinya nongkrong di Tongkrongan Reman, beradu jotos dengan teman sendiri, dan kebiasaannya main uno, membuat racikan hebat tentang bagaimana cara memerahkan wajah orang menjadi bintik-bintik merah hanya dengan bedak.

Jika ia bisa semua yang bersifat 'laki', bagaimana jika ia menguji 'kelakiannya' tersebut?

Dengan Anindya, ia rela membiarkan mukanya babak belur oleh Papahnya.

Dengan Anindya, beban tanggung jawabnya bertambah.

Dengan Anindya, masalah datang hanya dengan satu perbuatan.

Masalah yang dari dulu tidak pernah pudar itu menjadi masalah yang melibatkan seorang Stevant Ryant. Stevant masuk kesana. Ke Gang yang benar-benar membuatnya Nyaman tetapi membuat semua orang risih karena itu.

Bagaimana jika satu orang mempunyai rencana besar untuk memusnahkan Gang tersebut.

Stevant Tau semuanya, meskipun teman-temannya tidak tau apa-apa.

"Masih gua liatin dulu." 

Stevant menggertakan giginya keras, tangannya menggepal penuh.

"Bentar lagi juga, gua gampar."





Copyright 2016 by dhianfebast.
Tous Droits Réservés
Inscrivez-vous pour ajouter Trust Me à votre bibliothèque et recevoir les mises à jour
ou
#78tongkrongan
Directives de Contenu
Vous aimerez aussi
Friendship In Love, écrit par reny-uch
15 chapitres Terminé
"Anisa hari ini kamu cantik buangetttt, pakek u tripel t lagi." Rayu Alif kepada Anisa. Anisa sama sekali tidak kebaperan atau ngeflay karena dia atau betul sifat sahabatnya, kalau ada maunya pasti memuji. Kebiasaan yang terhaqiqi. "Dari dulu."ketus Nisa dengan raut muka datar alias biasa-biasa saja. "Tapi sayang Tollloollll L nya tripel tripel." Kata Alif sambil menekan kata Tollol pada kalimatnya. "Loe tu yang begog, kalau gue gak tolol mana mau gue sahabatan sama Alien nyasar kaya loe." Jawab Nisa sambil menjitak kepala Alif saat kata Begog. Mereka memang sahabat yang konyol dan aneh. "Sialan loe." Melihat makanannya dan makanan Reza sudah habis, Alif berdiri untuk kembali. "Za ayo cabut, mbak min nanti yang bayar makanan Alif sama Reza Anisa ya. Soalnya dia baru ulang tahun." Setelah berbicara panjang lebar kali tinggi ditambah volume eh maksudnya setelah berbicara Alif langsung pergi sambil menjulurkan lidahnya ke arah Anisa. "oke." Jawab mbak Mina Uhuk-uhuk Mendengar kata-kata yang dilontarkan Alif, Anisa langsung kesedak saat minum. "Ati-ati dong kalo minum." "Alien, awas aja loe ya." Teriak Anisa kencang. Dia baru sadar kalau jadi sorotan mata para pengunjung lainnya. Tapi dia tetap tidak peduli. "Emangnya loe ulang tahun Nis? Bukannya masih lama ya?" Tanya Nafisya dengan nada polos. "Ya Allah kenapa engkau beri aku teman sepintar ini?" Mendengar dumelan Anisa, Nafisya hanya tersenyum kecil. "Alif itu lagi ngerjain gue." Dumel Anisa sambil berdiri merogoh sakunya. "Berapa mbak?." Tanya gadis itu kepada mbak Mina. "Sekalian sama Alif Reza kan?" Tanya mbak Mina. "Iya." Baca selengkapnya:")
Vous aimerez aussi
Slide 1 of 8
Impossible cover
Sahabat atau Pacar [TAMAT] cover
Bukan Antagonis [END] cover
MahardiKarina cover
Meet Me at the Basement cover
RAYANA Transmigrasi cover
Untuk Oreo dan Kamu [OG] cover
Friendship In Love cover

Impossible

19 chapitres Terminé

[SLOW UPDATE] Mungkin, kali ini dia hanyalah pendatang. Tapi, bagaimana jika suatu hari nanti dia lah yang menjadi penopang? ________ Cerita ini bermula ketika Ghea Andara, cewek pecinta seni yang berniat membongkar kasus kematian sahabatnya, Clara Anindita. Setelah kepindahannya dari SMA Pelita ke SMA Angkasa, membuat kehidupan Ghea semakin rumit. Terutama tentang kisah cintanya. Diluar dugaannya, orang yang selama ini ia cari ternyata bersembunyi di balik sifat baiknya. Apa yang dirasa baik, nyatanya tak sebaik apa yang dipikirnya selama ini. Mustahil kah jika siapa saja bisa menjadi pelakunya? *** "Gak mungkin dia..," lirihnya seraya membekap mulutnya tak percaya. "Tapi kalo kenyataannya seperti itu, kita gak bisa apa-apa," "Gak!" "Ini mustahil!" "Gak mungkin!" "Bagaimana bisa?!" Ia hanya bisa menatap gadis di depannya ini dengan wajah sendu. Kini, jiwa itu seolah rapuh. Seakan tak bisa menerima kenyataan bahwa orang yang berhasil singgah di hatinya, ternyata adalah orang yang membuat nyawa sahabatnya melayang.