luka dalam kenangan

luka dalam kenangan

  • WpView
    Reads 361
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadComplete Mon, Dec 12, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
Datang lalu pergi, bagai hujan yang tak lagi memberikan kesejukkan dalam setiap tetes airnya yang jatuh menyentuh tanah. Membuat ritme yang indah sehingga memutar memori dalam kenangan, memberikan wangi yang khas bagai waktu yang telah dinanti. Terkadang itu hanya sebuah kenangan yang menyelinap diantara kebahagian. Hingga hati yang telah menyatu kembali retak seiring dengan kenangan yang tak kunjung pergi. ia datang begitu lama bertahan lalu hilang saat hati ingin membuka kembali cahaya bagi harapan. Andai hati kitalah yang mengatur mungkin takkan ada luka yang membuat pipi ini basah akan air mata. Tetapi, ini hanya skenario dari Tuhan sebagai sutradara terbaik dalam hidup. Alur nya bagai teka-teki bisu dalam kegelapan takkan ada yang tau setiap detik adalah langkah menuju akhir kehidupan sehingga takkan ada lagi hujan itu. Untuk memenuhi buku kenangan dalam hidup.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ramadhan Terakhir, Nayla
  • Harapan Dandelion yang Rapuh
  • The Love Story" Kurus & Mancung"
  • Doa yang Tergantikan
  • Alsa
  • Eternal Bond
  • Dalam Diamku Mengikhlaskanmu [ Sudah Terbit ]

"Aku tidak takut mati... Aku takut pergi tanpa sempat kembali pada-Nya." Nayla Adira selalu menjalani hidup dengan bebas, mengejar ambisi dan kesenangan dunia tanpa pernah benar-benar memikirkan akhirat. Hingga suatu hari, hidupnya berubah drastis-sebuah vonis dari dokter menyatakan bahwa usianya mungkin hanya tersisa beberapa bulan. Ketakutan akan kematian membuatnya menyadari satu hal bahwa ia belum siap bertemu dengan Tuhannya. Di tengah keterbatasan waktu, Nayla bertekad menjadikan Ramadhan ini sebagai yang terbaik dalam hidupnya. Ia mulai berhijrah, memperbaiki ibadahnya, menutup auratnya, berdamai dengan masa lalunya, serta meminta maaf kepada orang-orang yang pernah ia sakiti. Namun, perjalanan hijrah tak pernah mudah. Godaan dari lingkungan, rasa takut gagal istiqamah, dan ketidakpastian akan takdirnya menjadi ujian yang harus ia hadapi. Di saat ia merasa telah berdamai dengan segalanya, muncul sebuah pertanyaan yang terus menghantui, apakah Ramadhan ini benar-benar yang terakhir baginya? Sebuah kisah tentang harapan, penyesalan, dan kesempatan untuk kembali kepada-Nya. Karena selama napas masih berembus, tidak ada kata terlambat untuk berhijrah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines