THE OTHER SIDE OF ME

THE OTHER SIDE OF ME

  • WpView
    Reads 149
  • WpVote
    Votes 20
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 11, 2018
Di depan keluarga aku bersikap seperti orang yang polos dan lembut, kadang menjadi orang yang keras kepala dan tidak mau mengalah. Disaat sendiri aku bersikap seperti orang yang tidak waras, meluapkan kesedihan dan kemarahan dengan teriak sekeras yang aku bisa. Didepan teman-teman aku bersikap sok asik dan cuek dalam waktu yang bersamaan Wajar jika seseorang memiliki sifat yang berbeda-beda namun, aku merasa sifat itu bukan diriku yang sebenarnya. Hal ini membuat ku bingung dan penasaran. Aku pun memutuskan untuk lebih memahami setiap sifat yang ku punya, namun aku terlalu sibuk untuk mencari hingga tidak memperhatikan orang-orang yang ada di sekitarku. Sebenarnya siapakah aku? Apakah ini benar-benar aku atau merupakan sisi lain dari ku?
All Rights Reserved
#130
bingung
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • GREENSTA [END]
  • M E M O R Y  (On Going)
  • Close Your Eyes (Sehun - Jieun) (End)
  • Breathe
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Tears Of Sincerity [TERBIT ✓]
  • Where The Feelings
  • (1) HIM ✔
  • Surat Cinta untuk Diriku Sendiri
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines