Setitik Senja

Setitik Senja

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 12, 2016
Cerita yang agak membosankan tapi cukup sekilas dapat menyenangkan walau hanya sebutir kalimat sapaan bagai menepuk pipi agar terbentuk lekuk senyuman.. . . Luangkan waktu sejenak sebelum membaca. Siapkan kacamata, segelas susu, dan sebungkus roti. Siapa tau ditengah cerita kau tiba-tiba lapar. Agaknya begitu. Karena maaf. Ditengah waktu aku tak membuka warung ketika perutmu mulai berbunyi dan cacingnya mendendangkan lagu. Semoga aku mendengar kala itu. Agar kita dapat berjoget seraya terharu membaca ceritaku..
All Rights Reserved
#269
misterius
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Gadis Kecil dengan 5 Teman Bermain Tak Kasat Mata
  • TUBUH GADIS NERD [END]
  • Transmigrasi MyTia [END]
  • Betadine
  • Senyawa Abu-abu { F I N I S H }
  • Trasmigrasi Queenzee
  • ALEZRA (Thank you for coming)
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • VALERIE : NOT AYUNA [ rombak Ulang ]
  • Kalimat Rindu Untuk Ayana

Saat aku masih kecil-sekitar usia tiga tahun-aku belum mengerti bedanya mana yang nyata dan mana yang tidak. Dunia terasa seperti tempat bermain yang luas, dan aku menghabiskan banyak waktu di rumah karena musim hujan. Suatu hari, aku bertemu seorang anak kecil seumuranku berdiri di depan rumah. Kami bermain, tertawa, seperti teman biasa. karena aku masih kecil secara otomatis tidak mengetahui teman ku ini ternyata sesosok yang tak kasat mata dan anehnya hanya aku yang bisa melihat 'dia', teman pertama ku. Yang paling aku ingat adalah sosok ular besar yang muncul di dekat rumah. Bukannya takut, aku malah mendekatinya dan mengusap sisiknya. Aku bahkan sempat bicara dengannya-dan dia menjawab dengan lembut, "Ojo wedi ya nduk cah ayu. Aku uduk kewan seng jahat. Aku mung kepengen dulinan karo putuku seng ayu iki." Aku tidak tahu waktu itu kalau semua itu tidak biasa. Aku hanya seorang gadis kecil yang merasa punya teman bermain. Tapi semakin aku tumbuh, semakin aku sadar... mereka tak pernah benar-benar pergi. Inilah kisah tentang tempat aku tumbuh. Tentang lima teman yang tak kasat mata. Tentang hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika-tapi nyata bagiku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines