SILENT TEARS

SILENT TEARS

  • WpView
    Reads 42
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 6, 2019
WARNING!! 17+ This book contains harrasing word and mature content. If you're under 17 y.o please be a wise reader. ---------------------------------------------------- Silent Tears: Duniaku? Atau dunianya? *** Terbanglah dengan sayap-sayap impianmu membara di udara, berdansa dengan angin, menjelajah angkasa. Dan tumbuh di tempat manapun, dimana kau ingin tumbuh, menjadi jiwa baru, seperti dandelion. Aku hanyalah seorang gadis yang pandai bersandiwara. Yang muak dengan hidupnya. Namun, merindukan sosok anak lelaki yang meniupkan helai-helai dandelion sepuluh tahun lalu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Unpredictable Love
  • SO PRECIOUS (PART COMPLETE)
  • Entertainer
  • Your's My Flashlight (Slow Update)
  • Lonte Vs Gigolo (The Coli Trilogi I) (End)
  • My Body My Choice
  • Bad Revenge || I'm Sorry
  • Harapan tak Stabil (ONE SHOOT-COMPLETED✔)
  • Bertaut Rasa (Gratis)
  • Girl In White Lingerie (COMPLETED)

WARNING: Beberapa chapter terdapat adegan dewasa. Harap lebih bijak dalam membaca. Lili, hanya seorang gadis sederhana yang manis dan pendiam, tidak memiliki riwayat pacaran. Meskipun begitu, ibu nya selalu menyuruhnya untuk segera mendapatkan kekasih. Namun Lili terlalu pemalu, dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk mendekati pria. Dan entah bagaimana, seorang pria mulai mengganggunya. ----------------------------------------- Rendra tertawa kecil, suaranya terdengar berat dan penuh godaan. "Jika kamu yang berinisiatif menciumku, aku akan pergi." Lili menggigit bibirnya, tangannya gemetar hebat. Matanya yang basah oleh air mata menatap Rendra dengan gugup dan takut. Hening sejenak. Napasnya tersengal ketika ia akhirnya mengumpulkan keberanian, mengangkat sedikit tubuhnya, lalu berjinjit untuk mengecup pipi pria itu. Namun, sebelum bibirnya sempat menyentuh kulitnya, Rendra sudah lebih dulu meraih tengkuknya, menariknya erat ke dalam dekapannya. Tanpa memberi kesempatan untuk mundur, ia menuntut lebih menyapu bibirnya dengan ciuman yang panas dan mendalam. Suara Rendra terdengar serak di antara napas yang memburu. "Bagaimana mungkin aku bisa melepaskanmu setelah dirimu sendiri yang memberikannya padaku, hm?" ---------------------------------------

More details
WpActionLinkContent Guidelines