A6C
  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 16, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Enam perempuan ajaib dengan berbagai karakter, Selalu di sudutkan dengan enam laki-laki tengil dengan berbagai karakter pula. mereka semua selalu saling beradu mulut dan otot bahkan pernah juga mereka membuat kericuhan di kantin dengan saling melemparkan makanan/saos/apapun yang bisa dilempar, untuk membela kubu masing-masing. Akibatnya, orang tua mereka masing-masing di panggil langsung oleh kepala sekolah, dan pulang dengan tangan yang menjewer telinga anak mereka masing-masing sambil mengomel. Tidak bisa di bebaskan gitu saja, mereka diberikan hukuman yang sangat unik dan 'menyenangkan' oleh sang kepsek. yaitu, membersihkan toilet sekolah setiap pulang dalam kurung waktu +/- 6 bulan. awalnya mereka melaksakan dengan berat hati, namun seiring berjalannya waktu mereka melaksanakannya dengan sukarela. ada apa gerangan??????
All Rights Reserved
#938
producex101
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • ★BABY ZION★
  • Eramnesia
  • Untung Sayang
  • TOXIC!
  • KENNARD - Living with the Bad Boy
  • SATU DARAH
  • Living with Brothers  [TAMAT]✓
  • SUARA BIA (TAMAT)

"Aku yang bakal bawa Dhega." "Kamu gila, Bayu? Kamu gak mikirin anak-anak? "Aku atau kamu yang gila? Aku atau kamu yang nggak mikirin anak-anak?" Sedari ia kecil sang ibu selalu memarahinya dengan alasan jika ia harus berguna dan tidak merepotkan orang lain. Ibunya yang selalu meremehkan hal-hal kecil yang ia lakukan, ibunya yang selalu mementingkan dan mengutamakan sang anak pertama. Dunianya kala itu harusnya hanya tentang bermain, malah ikut andil dalam permasalahan orang dewasa. Dan naasnya, ia harus melihat kedua orang tuanya yang memilih untuk berpisah. membuat dirinya harus ikut dengan sang ayah. Semesta Radhega yang tidak ingin melulu menjadi akhir, ia juga ingin menjadi yang utama, yang selalu diprioritaskan ibunya. "Begitu sulit menyuarakan luka, saat mereka terus-menerus mendesakmu untuk sempurna."

More details
WpActionLinkContent Guidelines