Angin
  • WpView
    Reads 4,031
  • WpVote
    Votes 286
  • WpPart
    Parts 33
WpMetadataReadComplete Tue, Mar 26, 2019
Seorang perempuan yang selalu tersakiti dan selalu mengikuti kemana pun angin membawa nya. Oh, ralat angin itu adalah lelaki yang membawanya ke sebuah harapan yang tak berujung pada kepastian. Namun, segala rasa pedih yang mereka rasakan perlahan hilang dan berubah menjadi sepucuk harapan baik. Apakah penantiannya layak mendapat penghargaan? Apakah angin akan membawanya sesuai tujuan akhirnya?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Benalu [Terbit]
  • Saat Semua Sudah Terjadi Dan Penyesalan Datang Terlambat [END]
  • Waiting For
  • Cinta Dan Kasih Sayang (Writing Temporarily Suspended)
  • About feelings   (selesai)
  • After Agent [Sequel: The Broke Agent]
  • Jika esok Tak Pernah Ada
  •  Hope Come Back  ( Completed )
  • Restart ✔
  • Matahari untuk Senja ( editing )

"Bahkan ibunya sendiri membuang anak itu." Semesta pun menghiraukannya, seperti bayangan yang tak pernah di anggap ada, seperti benalu yang tidak pernah di inginkan kehadirannya. *** Nyatanya, ada hasil yang menghianati usaha dan tidak semua usaha akan di kabulkan dengan hasil yang baik. Ya, Teresa sadar hal baik tidak akan pernah ada dalam kisah hidupnya. Benalu akan tetap menjadi benalu, sang penganggu yang tak pernah di inginkan ada. Tangisan pilu selalu keluar dari mulutnya yang menyimpan banyak kisah luka, entah waktu kecil atau bahkan sampai sekarang. "Seharusnya anak seperti kamu tidak lahir dari rahim saya!" ucap wanita itu dengan tatapan penuh kebencian. Teresa Audiyatama. Seseorang yang berusaha menghilangkan label 'benalu' dan 'anak pembawa sial' di dalam diri dengan berbagai cara. Sakitnya di permainkan, di jadikan alat balas dendam, mendapat penghianatan yang begitu menyakitkan, sampai harus kehilangan orang-orang yang di sayangi. Tapi, kenapa semesta masi tidak mau berbaik hati padanya? Rasa sakit itu semakin menyakitkan. Setiap hari lubang kelam di hati semakin dalam, menyisahkan kekelaman yang mengerikan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines