La Tahzan When Love Not Enough

La Tahzan When Love Not Enough

  • WpView
    Reads 121
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Mar 4, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
Ketika kamu menyuguhkan cintamu di atas nampan emas dengan tulus, bahkan tak peduli jika saja ku hancurkan cintamu. Kamu tetap datang dengan tulus. Aku yang merasa tak pantas mendapatkan cinta seseorang sepertimu, bahkan untuk bermimpi. Tidak. Aku telah mengubur jauh angan-angan seseorang yang dapat mencintai ku, setelah merasakan tak pernah dihargai. Aku bangun untuk menunjukkan aku mampu berdiri agar tak seorang pun meremehkan diriku. Aku hanya takut kamu tahu diriku sebenarnya dan keluargaku, aku takut kamu akan lari setelah mengetahui, sungguh aku malu mengakui aku berasal dari latar belakang yang buruk. Aku teramat takut bahwa sebaik apa pun upayaku untuk mencetak diriku tetapi berakhir dengan buruk "sekalipun ditanam di tanah terbaik dan dirawat terbaik biji yang buruk akan menghasilkan tanaman yang buruk" Aku takut salah bereaksi atas cintamu yang tulus. -Ira Arda-
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ternyata Takdirku adalah Kamu
  • couple till jannah
  • TIKUNGAN SEPERTIGA MALAM
  • Allisa✓ [Selesai]
  • PRIVATE MOVIE  [On Going]
  • Eysha Love Story'
  • The Love Story" Kurus & Mancung"
  • Mahligai Cinta [END]✓
  • Duhai Habibi [On Going]

JANGAN LUPA FOLLOW YA... terimakasih sudah mampir Ada cinta yang tidak perlu diumbar, cukup diam-diam mendoakan dari kejauhan. Karena kadang, mencintai yang paling dalam adalah saat memilih untuk menjauh. Aku, Cilla, gadis biasa yang sebentar lagi akan memulai hidup baru di UIN Rafah. Di usia delapan belas ini, hidupku seperti perjalanan kereta yang tak pernah berhenti di stasiun yang sama dua kali. Termasuk stasiun bernama Arsan. Dia pernah singgah. Pernah menjadi alasan senyumku setiap pagi. Pernah menjadi orang yang paling aku percaya. Tapi kami memilih pergi. Bukan karena tidak saling mencintai, tapi karena tahu: terlalu dekat bisa membuat segalanya salah arah. Kami memilih menjaga, meski harus saling menjauh. Dan kini, setelah waktu membawa kami ke dunia yang berbeda... Aku masih menyebut namanya dalam sujud terakhirku. Sementara aku tak tahu, apakah dia juga menyebut namaku saat langitnya mendung dan hatinya sunyi. Mungkin kami sedang menguji takdir. Atau... mungkin takdir sedang menguji kami. Karena jika benar cinta ini suci, maka tak perlu digenggam erat untuk dimiliki. Cukup dipercayakan kepada Allah. Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengannya, aku ingin bertanya satu hal: "Masihkah kamu menganggapku takdirmu, seperti dulu?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines