Treat Me Better

Treat Me Better

  • WpView
    Reads 115
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 25, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
Ini kisah cinta sederhana seorang gadis SMA yang ingin dibuat jatuh cinta setiap harinya oleh kekasihnya. Gadis ini dilanda kebimbangan berkali kali sering kali dia membuat nya selalu ingin berkata putus tapi berkali kali juga dia ini meluluhkan hatinya. Gadis itu bernama Ardias Chica gadis cantik berusia 16 tahun yang apa adanya mudah tersentuh namun menjadikannya sangat sensitif,dan kekasihnya bernama Raga Gamaliel pria berusia 17 tahun yang kaku juga ahli menyembunyikan isi hatinya, tampan namun juga ambisius dalam hal ke sukaannya dia sangat menekuni hal itu yang membuat dia lupa pada cintanya cinta yang membuat dia terkasihi cinta yang dia buat menunggu dirinya.Gadis itu selalu menyediakan tempat di hatinya meskipun kekasihnya sering pergi dan entah kapan singgah membuatnya selalu cemas dan rapuh. Ya benda yang rapuh akan dengan sangat bersedia ditopang oleh benda yang lainya begitu juga hubungan mereka yang rapuh apa jadinya jika ada pria lain apakah Gadis itu akan sanggup atau menyerah karna terlalu lelah apakah dia bisa terbiasa dengan kebiasaan baru, dengan tempat itu diisi orang lain? bagaimana pun dia sudah melewati banyak hari hari bersamanya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • Firts Love
  •  First Love Again
  • ARESTA
  • Sebatas Angan Senja
  • Arunicalla [TAMAT DI KARYAKARSA]
  • DEAR LOVE
  • Ketika Cinta Tak Lagi Gratis ❤️ ON GOING ❤️
  • Jane [OPEN PO]

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.

More details
WpActionLinkContent Guidelines