D -Dela, Doni, dan dia

D -Dela, Doni, dan dia

  • WpView
    LECTURAS 156
  • WpVote
    Votos 13
  • WpPart
    Partes 4
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, ene 11, 2017
Pernahkah kau tertawa lepas? Namun hanya untuk menjaga kesedihanmu tidak lepas. Tertawa sekeras kau ingin meraung pilu, menjaga agar tangismu senantiasa tersembunyi. Aku pernah. Gadis yang dijuluki orang paling ceria, adalah orang yang menyimpan luka di sanubarinya. Jangan katakan ini pada yang lain. Hingga seseorang datang, mencoba masuk ke relung yang terdalam. Namun, ini sulit. Karena sebelum itu, seseorang yang lain pernah pergi. Dia. Seseorang yang sangat kupercaya, sangan kusayang. Meninggalkan luka teramat dalam. Asal kau tahu, aku kebingungan. Terombang-ambing memilih harus senang atau sedih. Ketika dia pergi, dia telah menjagaku agar tak jatuh cinta, karena aku pernah terlalu jatuh sejatuh-jatunya. Menjagaku tak lagi mudah percaya. karena aku pernah percaya sepercaya-percayanya. Menjagaku kebas terhadap rasa sakit, patah hati, dan semacamnya. Karena aku pernah sakit sesakit-sakitnya. Dan, menjagaku untuk tak mudah bahagia. Karena aku pernah bahagia sebahagia-bahagianya. ---------- "Cerita ini hanya fiktif belaka, jangan dikira beneran."
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Lisa [Sudah Terbit dalam Bentuk E-Book]
  • TITIK LUKA 2
  • Why Do You Love Me [COMPLETED]
  • [Bukan] Cinta Pertama
  • Kita Sembuh Bareng?
  • I love You Om (END)
  • SALAH RASA (TAMAT)
  • Perihal Waktu [ REVISI ]

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido