My last Edelweis

My last Edelweis

  • WpView
    Reads 188
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Aug 17, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
Aku pernah jatuh cinta begitu dalam hingga tak ada lagi ruang untuk merasakan sakit. Aku pernah begitu percaya hingga tak ada lagi ruang untuk curiga. Akan kah aku merasakan hal itu lagi? Akan kah aku bodoh karena cinta lagi? Dan aku punya satu pertanyaan untuk kalian, apakah kesabaran ada batasnya? Silahkan masuk, lihat kisahku dan kalian akan tau jawabannya. Oh satu hal lagi, menurut kalian apakah itu arti cinta dan ketulusan? Setelah kau masuk kedalam ceritaku, bisakah kau tunjukkan jawabannya? Sungguh aku sangat ingin tahu tentang itu.
All Rights Reserved
#102
kekecewaan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • When I happy? (TAMAT)
  • Tentang Rindu [Sudah Diterbitkan]
  • GAREN SINCERE LOVE
  • Pangeran Kelas
  • Admire Or Love
  • Haruskah Aku Bertahan?
  • REGRET OF LOVE
  • Rasa Tanpa Kata
  • ZEVILYO EZYAN

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines