I Miss U { IMU }

I Miss U { IMU }

  • WpView
    Reads 61
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Feb 20, 2018
Aku jijik dengan semua yang ada pada diriku sendiri , semuanya.. tidak ada yang tersisa. Cita-cita, tubuh, hati dan juga cintaku. Semuanya seakan melangkah menjauhiku. Seakan kebahagiaan menertawaiku dan berucap 'dirimu menjijikan dan kotor, bahkan satu kebahagiaanpun tidak akan menerpamu hingga dunia terlepas dari orang hina sepertimu' yah, tidak ada yang salah dari itu semua dan akupun tidak menyalahkan itu semua, pada kenyataan tidak jauh dari fakta. Hingga aku merasa tidak pantas dengannya, lelaki dewasa yang memiliki wajah bak dewa yunani, namun memiliki kepribadian yang tidak bisa disentuh oleh siapapun termaksud aku. Namanya telah terpilih oleh hatiku tapi rasa tahu diriku lebih besar dari segalanya. Aku tidak pantas untuknya walaupun nantinya aku dilahirkan kembali dan memiliki perasaan yang sama, tapi tetap saja aku bagai tanah dan dia langitnya, sangat berbeda.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TEOLOGI CINTA
  • cinta untuk sang nona
  • The lost love
  • SELAMA ITU KAH, APAKAH  KAU AKAN KEMBALI?
  • i love komandan S1-♡
  • ZERGAN
  • From Sorrow To Happiness || Mayor Teddy
  • ANA UHIBBUKA FILLAH  (End)
  • Lelah | >Kaifang HIATUS
  • Antara aku dan dunia

Memilih jodoh tak seperti melempar dadu. Aku sudah super hati-hati, ketika akan memutuskan Ghani menjadi suamiku. Tetapi Tuhan punya rencana lain. Ketika Ghani dalam keadaan tak berdaya, koma dan amnesia. Aku jadi berpikir ulang. Semakin tak tega untuk mencampakkan begitu saja. Aku tak tahu, apa ini cinta atau bukan. Yang jelas rasa itu hadir mengikat hatiku. Ghani bagiku saat ini tak lagi seperti pakaian. Jika tak cocok, aku mengganti yang lain.Bahkan, hari demi hari aku tak ingin jauh darinya. Aku tak ingin sewaktu-waktu jika ia dipanggil-Nya, aku luput dari sisinya. Terkadang aku tak mengerti banyak hal tentang diriku sendiri saat ini. Sejak Ghani bernasib naas, aku merasa berdosa besar dan sulit untuk memaafkan diriku atas niat burukku dulu pernah menuntutnya bercerai. Kini, justru sebaliknya, aku seperti telah jatuh cinta untuk kedua kalinya, tanpa syarat, sampai tertawan, hingga berserah tanpa bisa melawan. Aku mengizinkan hatiku mengalir bersama keterbatasannya, tanpa alasan jelas, bahkan cenderung absurd. Ada rasa kasihan dan iba yang luar biasa. Seperti gaya percintaan kakek nenek yang telah menua dan renta. Terkadang kuberpikir apakah hubungan suami istri seperti ini yang ideal? Tak mudah lekang oleh pancaroba. Dibanding yang didasari hitungan untung-rugi dengan mengatasnamakan cinta? Yang tak kumengerti sampai saat ini, mengapa aku semakin takut kehilangan Ghani? Sampai aku tak mampu lagi mengindetifikasi perasaanku ke Ghani, apakah aku mencintai atau mengasihani?

More details
WpActionLinkContent Guidelines