Nanti Kamu Malu

Nanti Kamu Malu

  • WpView
    LECTURAS 81
  • WpVote
    Votos 8
  • WpPart
    Partes 4
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, nov 7, 2017
Selepas jumatan Uron berniat membantu seorang tetangga yang akan melangsungkan walimatun nikah besok lusa. Dengan sarung dililitkan di leher pemuda itu berlenggang melewati orang-orang yang terkikik geli melihat celana cingkrang penuh tambalan yang dikenakan. Dia tersenyum kepada setiap orang yang nyengir menahan tawa. Bukan tidak tahu jika mereka menertawakan. Tapi baginya ini anugerah, apalagi melihat Mbak Rini yang seminggu lalu berduka karena ditinggalkan sang ayah, Pak Ramon yang kemarin kemalingan dapat tertawa sebab melihat celana Uron yang penuh tambalan. "Hei, lihatlah celana bertambal. Sudah berapa orang yang sudah kaubuat senang sepanjang jalan?" Tibalah Uron di tempat tujuan. Mengucap salam, lalu berjalan menuju tempat paling sudut ketika melihat Kurdi temannya sedang mengobrol dengan Pak Gugun. "Pak Gugun pasti tidak tahu, sebelum rumah Pak Ramon kemalingan. Dia itu menampar istrinya loh di halaman." Kurdi rupanya sedang bergosip, tidak menyadari ada o
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Katanya Jadi Anak Terakhir Enak - WOONHAK [Terinspirasi dari kisah nyata]
  • ArKa (End)
  • Marvelous
  • Aruna (Terjerat Cinta Dan Benci)
  • Tepi Lintang
  • Shaffira ✔ (KBM & KARYAKARSA)
  • A Bittersweet farewell  ( Sudah Lengkap Mari Di Baca)
  • Arista ( Tamat )
  • Fall For Firefighter
  • Ustadzah Assyifa✔️

Sejak hari itu, ayah tak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah. Tapi bayangannya masih menempel di tiap sudut di kursi kayu ruang makan, di seragam kerja yang masih tergantung di lemari, bahkan di kepala Wilano yang mulai sulit membedakan antara rindu dan benci. Dan suatu sore, saat langit menggantung kelabu dan gerimis turun perlahan, ledakan itu terjadi. "Gue bakal ke rumah Ayah bentar, mau ngobrol langsung," kata Rian pelan, mengambil jaketnya di gantungan. Suaranya hati-hati, tapi cukup untuk membakar emosi Seno yang sejak pagi sudah seperti bom waktu. "Ngapain lo ke sana?! LO PILIH DIA?!" Semua yang ada di ruang tengah menoleh. Suara Seno menggelegar, membuat udara di rumah seperti bergetar. Rian menoleh cepat, matanya melebar tak percaya. "Gue cuma mau bicara, Sen. Dia tetap ayah gue juga. Lo gak bisa larang gue ketemu orang yang selama ini ngerawat gue!" sahut Rian, nadanya naik. "Dia bukan ayah lo. Dia pengkhianat. Dan siapa pun yang masih mau bela dia... gak layak tinggal di sini." Suasana berubah tegang. Jaya berdiri setengah badan, siap menengahi kalau sewaktu-waktu keadaan makin memanas. Theo mengerutkan alis, tapi tetap tak banyak bicara. Wilano menatap semuanya dengan mata membesar. Dia tak mengerti, mengapa semuanya harus sejauh ini. Leon, yang sedari tadi diam, berdiri perlahan. "Kalau lo pikir begitu... gue ikut Bang Rian."

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido