Kanaya Nathania merasa dunianya kehilangan warna. Sebagai mahasiswi DKV tingkat akhir, ia justru membenci kanvasnya sendiri. Di bawah tekanan ekspektasi di Jakarta, Kana melarikan diri ke Bandung dan menetap di rumah neneknya. Di sana, ia bertemu Kalandra Javero Alvarendra, tetangga sebelah rumah yang hidupnya selalu diatur oleh perhitungan matang dan keteraturan. ☕☕ "Kenapa kamu repot-repot peduli, Ver? Hidupku ini cuma sketsa rusak yang mau aku buang," bisik Kana. Javero menyesap sisa kopi pahitnya. "Menurut saya, nggak ada manusia yang rusak sampai harus dibuang, Kana. Kamu cuma lagi kehilangan arah." Kana tertawa getir. "Dan kamu pikir kamu bisa ngeberesin hidupku?" Javero melangkah lebih dekat. "Saya nggak berniat ngeberesin kamu. Saya cuma mau memastikan, pas kamu mutusin buat jalan lagi nanti... kamu nggak perlu sendirian ngitung detiknya." Di tengah kejaran skripsi dan kenyataan yang mencekik, keduanya belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan hanya dengan kepala dingin.
Più dettagli