I'm Sorry Dean

I'm Sorry Dean

  • WpView
    Reads 414
  • WpVote
    Votes 60
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 10, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
Kalila cewek cerewet, polos dan keras kepala selalu memimpikan masa lalu seseorang yang tidak ia ketahui siapa. Bertemu dengan Dean yang yakin bahwa Kalila adalah teman masa kecilnya yaitu Shakila. Dean lama-kelamaan memiliki perasaan terhadap Kalila begitupun juga Kalila. Namun tidak segampang mengambil uang dimeja. Selalu ada penghalang di hadapan mereka. Apakah Dean dan Kalila mampu menghadapi pengahalang tersebut? Apakah Dean dan Kalila mampu mengambil uang di meja? Lah kok?! Ralat!!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Aku & Kamu Kita
  • Beautiful Little Maid
  • IN ANOTHER LIFE (ON GOING)
  • Cerita Kami (Satu)
  • Kian Johnny Dawson
  • C&E
  • Surat Untuk Reno
  • K
  • Rumah Penuh Kaca [COMPLETED]

Qil... maaf, gue nggak sadar sama apa yang barusan kita lakuin," ucap Mohan, suaranya lirih, penuh penyesalan. Namun penyesalan itu tak mampu membendung luka di dada Aqila. Ia menatap Mohan dengan mata yang basah dan penuh kekecewaan. Suaranya pecah, histeris, "Diem lo! Gue salah apa, Mohan? Kenapa lo jahat banget sama gue? Gue benci lo, Mohan! Akhhhhh!!" Jeritannya menggema, memecah malam yang sepi. Mohan panik. Ia mendekat, mencoba menenangkan dengan memeluk tubuh Aqila yang bergetar. Tapi Aqila memberontak, menolak sentuhan itu seolah menyentuhnya adalah membuka kembali luka yang belum sembuh. "Lepasin! Lepasin gue! Jangan lakuin itu lagi... Sakit... Sakit!" isaknya keras. Mohan terdiam sesaat, menelan semua rasa bersalah yang menyesakkan. Ia mengendurkan pelukannya, menatap wajah Aqila yang basah oleh air mata. Dengan lembut, ia genggam wajah Aqila, memaksanya menatap ke arahnya. "Oke, gue lepasin. Tapi plis, Qil... Tenang dulu, oke?" Aqila hanya terisak. Tidak menjawab. Tidak memukul. Tidak menolak. Tapi juga tidak menerima. Malam itu menjadi saksi, bahwa kadang maaf tidak cukup. Ada luka yang butuh lebih dari sekadar kata-kata untuk sembuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines