
Aku masih menatapnya. Daun terakhir yang gugur dari batang pohon yang telah tumbuh ratusan tahun di depan kamarku. Pohon yang senantiasa menjadi temanku dalam mengarungi suka dan duka hidup ini. Kini ia bersiap tuk mati. Melepaskan raganya yang telah kering tanpa sedikitpun denyut kehidupan yang tersisa. Seorang pelayan menungguku di luar pintu kamarku yang tertutup. Biarkan saja. Biar saja ia ada disana, meski sampai jenggot tumbuh di kepala. Atau sampai darah berwarna putih karena terik matahari yang sepuluh tahun ini terasa sangat menyengat. " Tuan Putri. Raja menunggumu di Istana, " kata pelayan yang berdiri disana." " Biarkan saja dia menungguku. Aku malas menemuinya. Bilang padanya aku sibuk atau apalah, " kataku ketus. Aku tak menyukainya. Orang sombong yang selalu mengagung-agungkan wilayah kerajaannya yang luas. Aku tak peduli dengannya. Dengan semua orang yang berada disisinya. Aku tak peduli. Biarlah aku habiskan waktuku di dalam kamar ini. Kamar yang memberikanku sejuta kenangan akan cinta dan kasih sayang. Satu-satunya hal yang tak aku miliki lagi di dunia ini.Todos los derechos reservados
1 parte