WHITE
  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 7, 2017
Aku masih menatapnya. Daun terakhir yang gugur dari batang pohon yang telah tumbuh ratusan tahun di depan kamarku. Pohon yang senantiasa menjadi temanku dalam mengarungi suka dan duka hidup ini. Kini ia bersiap tuk mati. Melepaskan raganya yang telah kering tanpa sedikitpun denyut kehidupan yang tersisa. Seorang pelayan menungguku di luar pintu kamarku yang tertutup. Biarkan saja. Biar saja ia ada disana, meski sampai jenggot tumbuh di kepala. Atau sampai darah berwarna putih karena terik matahari yang sepuluh tahun ini terasa sangat menyengat. " Tuan Putri. Raja menunggumu di Istana, " kata pelayan yang berdiri disana." " Biarkan saja dia menungguku. Aku malas menemuinya. Bilang padanya aku sibuk atau apalah, " kataku ketus. Aku tak menyukainya. Orang sombong yang selalu mengagung-agungkan wilayah kerajaannya yang luas. Aku tak peduli dengannya. Dengan semua orang yang berada disisinya. Aku tak peduli. Biarlah aku habiskan waktuku di dalam kamar ini. Kamar yang memberikanku sejuta kenangan akan cinta dan kasih sayang. Satu-satunya hal yang tak aku miliki lagi di dunia ini.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Revenant: Kuntilanak Penyelamat
  • In the Future Without You
  • possessive Alejandro
  • Darren Obsession ✔ [ON KARYAKARSA]
  • Tell The World I Love U
  • Legend of the Sun and Moon

Kehidupanku begitu indah dan penuh dengan warna. Tidak semua orang memiliki keistimewaan untuk menghidupi kehidupanku. Aku cinta penuh terhadap Ibu dan ayahku yang membesarkan Aku. Dan Aku cinta semua teman sekolahku meskipun perseteruan dan masalah ada di antara kita. Tetapi semuanya sirna dalam satu jentikan jari. Hanya butuh satu insiden saja untuk mengakhiri hidupku di dunia ini. Aku melihat tubuhku sendiri penuh dengan darah, dan tulang yang patah dan rapuh. Satu momen yang berlangsung selama 5 menit saja bisa menghancurkan kehidupan yang dibangun bertahun-tahun. Namaku Angeline dan umurku masih 14 tahun. Sebagai arwah gentayangan. Aku berkelana ke tempat-tempat familiar dan menemui mereka yang terdekat dengan aku. Dari sekian banyaknya teman-temanku yang terdekat, seorang anak di kelasku yang dianggap aneh adalah satu-satunya yang hidup yang bisa mendengar perkataanku berkat dari talenta kususnya. Dan dari terjalinnya komunikasi antara Aku dan Alina, kita menciptakan sebuah persahabatan yang baru di tengah-tengah duka dan tragedy. Sebagai roh orang mati, Aku berprasangka akan menghabisi akhiratku di dalam penyesalan, amarah, dan binasa. Seperti apa yang banyak orang pikir sebagai hantu gentayangan yang haus akan balas dendam, meminum darah anak-anak, dan membawa ketakutan, kutuk, dan mala petaka kepada yang masih hidup. Tetapi Aku tidak pernah berpikir mengenai balas dendam ataupun kebencian kepada siapapun. Aku tidak tega untuk menyakiti orang lain semenjak Aku masih kecil dan begitu juga setelah Aku mati. Aku selalu membantu orang yang lemah, dan menemani mereka yang kesepian. Demikian hal yang sama juga yang ingin kuliakukan sepanjang kematianku sebagai roh yang tersesat. Banyak sekali yang kudapatkan di sepanjang pengalamanku sebagai roh mati. Terutama dengan bangkitnya kuasa gelap yang melandai ibukota, menyelamatkan perempuan yang hampir mati, dan melawan para penjahat. Apakah kematian ini adalah akhir dari riwayatku. Atau awal kehidupan yang baru?

More details
WpActionLinkContent Guidelines