365 Days of Silent Fellings

365 Days of Silent Fellings

  • WpView
    Reads 1,191
  • WpVote
    Votes 88
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 4, 2020
"Fee?" "Ya, Bar?" "Terima kasih untuk semuanya. Sampai jumpa." Saat itu, ia pergi tanpa syarat. Hilang tanpa suara. Seakan tersesat di kerumunan orang di bandara. Tak ada rasa ingin untuk berbalik memanggil nama ku seperti di kala itu. Bara ku telah terbang. Lenyap ditelan angkasa *** "Bara?" "Kenapa, Fee?" "Mengapa saat itu kau memanggil namaku walau kau tak kenal aku siapa?" "Entahlah, Fee. Hujan tak perlu alasan untuk jatuh ke bumi. Angin tak butuh sebab untuk sekadar lewat di sela dedaunan. Semua telah diatur sedemikian rupa. Saat itu pun, mungkin semesta juga telah menjalankan tugasnya untuk membiarkan ku memanggilmu tanpa syarat." Sekali lagi, di pantai itu ia pergi tanpa pamit. Saat itu tak lagi ku panggil namamu seperti dulu. Desiran ombak mengisi kesunyian. Pasir putih seakan diam tanpa kata. Kau, sekali lagi, hilang. Hilang ditelan sunyinya pantai yang menjadi sejarah akan dua perasaan yang tak pernah dapat ditebak, olehmu dan diriku. -unf
All Rights Reserved
#286
teenromance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALZEA : FEATURED SOULS [END]
  • FRIENDzone (Completed)
  • Me,You and the story we went through.
  • My Heart
  • Fai
  • DENTING  [Revisi]

Algesa liar, berantakan, dan terlalu akrab dengan kehancuran. Zea cantik, tapi matanya menyimpan luka yang tak bisa dijelaskan. Orang-orang berkata hidup adalah soal pilihan. Tapi bagi Algesa Axeliano Ravanaugh, hidup hanyalah sisa napas dari keputusan orang lain. Ia tidak pernah meminta untuk dilahirkan, apalagi tumbuh besar di rumah yang dipenuhi darah, teriakan, dan kebohongan. Setiap langkah yang ia ambil adalah pelanggaran. Bocah pemberontak yang menantang dunia karena dunia lebih dulu menghancurkannya. Ia melawan. Melawan dunia yang telah merenggut Bundanya. Melawan ayah yang seharusnya sudah terkubur sejak lama. Malam itu, di jembatan tua yang dingin menusuk tulang, Algesa tidak mencari apa pun. Ia hanya ingin diam. Tapi justru di sana, dalam gelap yang lengang, ia menemukan sesuatu yang tak terduga, sepasang mata yang tak asing. Bukan karena ia mengenalnya. Tapi karena luka yang tersembunyi di balik sorotnya terasa terlalu akrab. Zea. Ia bukan gadis baru. Bukan pula gadis baik-baik. Tapi ada sesuatu dalam caranya berdiri, dalam diamnya yang membatu, yang membuat Algesa terus melangkah. Bukan karena ia cantik. Tapi karena ia rusak. Sama seperti dirinya. "Kenapa... lo nolongin gue?" tanyanya lirih, tubuhnya gemetar tak hanya karena dingin, tapi juga karena luka yang terlalu lama disimpan. Algesa menatapnya lama, diam tanpa ekspresi. Petir menyambar di kejauhan, memperjelas gurat tajam di wajahnya yang basah. Tapi kemudian sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai kecil, dingin, ambigu, tapi entah mengapa terasa jujur. "Mungkin karena gue suka ngerusak hal-hal yang hampir rusak." ALZEA : 05. April. 2025 By : Rossa Ig : @rossaroxie @_chaterinee

More details
WpActionLinkContent Guidelines