OBSESI
  • WpView
    Reads 36
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 7, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
Nara tak pernah absen mengacak rambut ikal Lail di pagi hari, bertukar senyum hangat dan saling menyemangati. Mereka mengobrol seharian di kelas, di sela pergantian pelajaran. Lail selalu mengantarnya pulang dengan ninja mengkilap kesayangannya. Mereka bertemu lagi di udara sampai lelah melanda. Mereka berpegangan tangan di sepanjang jalan, bermain di pinggir pantai atau nonton malam-malam di bioskop. . Nara mengabaikan halaman pertama novel yang dibacanya, ketika matanya menangkap Lail di kejauhan. Rambutnya yang ikal dan kulit sawo matang itu, membuat hatinya selalu meleleh. Ia tak berkedip. Andai ia bisa menyentuhnya setiap hari, rasanya ia tak perlu sekolah, cukup hidup dengan Lail saja. "aku harus mendapatkannya. cuma aku yang boleh bersamanya. iya.. cuma aku" akankah segala khayalannya menjadi kenyataan? halaman pertama novel itu kusut oleh genggamannya.
All Rights Reserved
#538
obsesi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ANTARA DOA DAN RASA
  • Cahaya Rona Bianglala
  • Suffering Of Life (Revisi)
  • BULIR CINTA [END]
  • Menunggu Waktu, Menemukan Dirimu
  • Saat Hati Tak Lagi Menunggu
  • 𝐄𝐓𝐄𝐑𝐍𝐀𝐋 𝐎𝐁𝐒𝐄𝐒𝐒𝐈𝐎𝐍 | SAQUEL
  • Silence In Their Minds

Setelah patah hati yang mengajarkan luka lebih dalam dari sekadar kehilangan, Lili bersumpah tak ingin jatuh lagi. Tapi takdir mempertemukannya dengan lelaki sederhana yang hadir tanpa janji manis tapi penuh makna. lelaki itu berbeda. Bukan hanya caranya mencintai, tapi juga arah doanya. Semakin dekat mereka, semakin jauh kenyataan membawa. Di antara senyuman dan air mata, mereka menyadari: cinta bisa tumbuh di mana saja, tapi tak selalu bisa tinggal. Ini adalah cerita tentang dua hati yang saling menemukan, tapi tak bisa memiliki. Bukan karena tak cinta tapi karena mereka terlalu percaya. Apakah rasa bisa tetap tumbuh meski arah tak sejalan? Atau justru mereka harus memilih, antara cinta yang hangat... atau keyakinan yang tak bisa dikompromi?

More details
WpActionLinkContent Guidelines