We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Jeritan Sekolah Tua

Jeritan Sekolah Tua

  • WpView
    Reads 1,161
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadComplete Sat, Jun 17, 2017
WpInfo
Fiction
Horror
. . . Saat kami berjalan menuju pintu, Rangga tersandung oleh sesuatu yang muncul dari bawah meja deret ketiga dari pintu kelas. Ia pun kaget dan menggerutu kesal. "Tai, siapa yang taruh barang sembarangan?" katanya. "Rangga, itu bukan barang. Tapi, kaki manusia," jelasku berkata gagap sambil menerangi kaki manusia itu dengan cahaya telepon genggam yang redup . . .
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't call it love!
  • Don't Love for DEVIL'S (HIATUS)
  • Rapuh Lalu Retak (RLR)
  • East sky first love
  • Si Gadis Manis Tak Polos
  • Because I'm Stupid (End)
  • ALFIAN BAGASKARA
  • GILANG ABRAHAM
  • Without Title

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines