Gue gak berharap pisah sama lo dengan cara seperti ini, tapi gue harus ngelakuin itu niat gue udah bulat.
Mungkin gue gak bakalan balik lagi, bukan karena gue gak mau ketemu sama lo atau karena gue pengen ngelupain lo. Bagaimana bisa gue lupain elo?
Bagaimana mungkin?
Gue gak janji buat bisa balik lagi, itu bukan karena gue udah ngelupain lo
Tapi gue takut, gue gak bakalan punya keberanian.
Gue pergi bukan karena gue gak ngehargai tentang kita, tapi gue udah gak sanggup nahan semuanya lagi.
Itu karena gue cinta sama lo, gue berharap lo bisa ngelihat gue sekali aja tapi nyatanya lo seperti bulan yang selalu gue pandang setiap malam. Lo gak pernah datang buat gue.
Dan kamu, kamu harus bahagia dengan atau tanpa aku.
Aku emang egois dan kamu tau itu.
Tapi ...
Will you wait for me?
Hak Cipta Terlindungi @2017 oleh firdapranita
[SELESAI] BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA
Sejak beberapa waktu lalu, Cia merasa hidupnya tidak lagi sama. Pria yang ia kenal sebagai kekasihnya berubah menjadi sosok yang dingin, kasar, dan penuh kebencian. Ia tidak pernah tahu sejak kapan perubahan itu terjadi, yang ia tahu hanyalah rasa sakit yang terus bertambah setiap hari.
Dipaksa bertunangan demi uang, dijadikan mesin ATM oleh keluarganya sendiri, dan menjadi sasaran perundungan, Cia bertahan tanpa benar-benar memahami apa kesalahannya. Pria itu membencinya, menunggu kematiannya, namun pada saat yang sama tak pernah benar-benar melepaskannya.
Di balik sikap kejam dan identitas yang samar, tersimpan rahasia besar yang perlahan menggerogoti segalanya. Ketika potongan kebenaran mulai muncul, Cia dihadapkan pada pilihan paling berat. Tetap hidup dalam kebohongan, atau menghadapi masa lalu yang selama ini disembunyikan darinya.
Sebuah kisah tentang cinta yang berubah tanpa alasan, kebencian yang menyimpan rahasia, dan seorang gadis yang belajar bertahan di dunia yang diam-diam menginginkannya hilang.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku membencinya atau setidaknya itu yang selalu kupercaya.
Dia hidup di tempat yang seharusnya bukan miliknya, bernapas dengan nama dan masa lalu yang tidak lagi utuh. Setiap tatapannya mengingatkanku pada sesuatu yang hilang, pada kesalahan yang tidak pernah bisa ditebus. Maka aku bersikap kejam. Dingin. Menunggu hari dimana keberadaannya benar-benar menghilang.
Namun kebencian adalah kebohongan paling berisik. Semakin lama aku menghancurkannya, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tumbuh di sela-sela amarah itu. Sesuatu yang seharusnya tidak ada. Sesuatu yang tidak boleh kuakui.
Karena jika kebenaran itu terungkap, bukan hanya dia yang hancur.
Aku juga.
Selesai: 18 Maret 2022