Falling In Love At a Coffee Shop

Falling In Love At a Coffee Shop

  • WpView
    LETTURE 26,229
  • WpVote
    Voti 1,618
  • WpPart
    Parti 6
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione lun, giu 12, 2017
"Asta itu kebahagiaan yang nggak gue cari tapi gue temukan tanpa sengaja dan tanpa rencana disaat gue udah merasa cukup bersyukur sama hidup gue yang udah lama tanpa pendamping. Dia melengkapi hidup gue yang selama ini gue pikir cukup." -Galih Danahardja "Galih itu persis kayak rumah masa kecil yang akhirnya gue temukan saat gue bingung harus pulang kemana. Sama Galih itu bikin gue ngerasain kalo emang yang namanya bahagia itu sederhana bener-bener ada." -Agasthya Nada Tapi yang namanya hidup itu nggak pernah mulus, lempeng aja tanpa hambatan kayak jalan tol. Jalan tol aja kadang macet, kadang banjir, apalagi hidup. Sama kayak hubungan Galih dan Asta yang nggak selalu mulus. Falling In Love At A Coffee Shop ini cerita tentang bagaimana mereka bertemu, bagaimana mereka jatuh cinta, bagaimana mereka mempertahankan dan memperjuangkan. Bagaimana keduanya di uji dan juga bagaimana cara keduanya melewati setiap ujian itu. Apa rasa suka, sayang dan cinta itu sesuatu yang abadi? Atau hanya diawal saat keduanya masih saling berbagi tawa dan menerka-nerka? Galih dan Asta hanya orang biasa yang kisahnya juga biasa kita temui di kehidupan sehari-hari. Semoga bisa menghibur dan bikin baper! Share ya kalo emang ada yang senasib! Haha Happy reading, Readers! 🖤 p.s : part 3 dan seterusnya private ya :) [bluishgreenpaper, 14 februari 2017]
Tutti i diritti riservati
#97
metropop
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • Psikopat Digital? [End]
  • The Ingredients of Happiness [COMPLETED]
  • DANGEREUX
  • GRIZLEN {On Going}
  • DikaRanggi
  • Galak Kamu, Mas!
  • Gone(✔)🔚
  • DENTING  [Revisi]

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti