MY DREAMS

MY DREAMS

  • WpView
    Reads 183
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 7, 2017
Bagaimana rasanya menpunyai mimpi yang sangat ingin kita capai? Melihat orang tersenyum, tertawa bahagia karna melihat impiannya tercapai dengan dipenuhi kerja keras. Itulah yang hal yang ingin dirasakan oleh Karina Stephia yang menjadi boneka orang tuanya. Aku hanya bisa menghela nafas terhadap mimpiku dan mencoba melupakannya tapi tak kunjung bisa. Sampai saat itu aku bertemu dengan seseorang yang mengatakan 'jika kau tak bisa melihat dengan mata gunakan hati mu untuk melihat' seandainya aku berani melawan, seandainya aku berani mengeluarkan pendapat, seandainya aku tak melakun ini. Kini sekarang aku tau itu, aku hanya berandai-andai saja. -Stephia-
All Rights Reserved
#229
goodgirl
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Rain
  • Paper Hearts
  • Final Destination (Tersedia Di Ebook)
  • ALISHA (end)
  • This Is My Dream
  • Dreamers [on-going + revisi]
  • FINE (COMPLETED)
  • CHEOSSARANG (Complete)
  • Only You

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines