We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Hukum Kekekalan Rasa

Hukum Kekekalan Rasa

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Feb 3, 2017
WpInfo
Poetry
3 Februari 2017. Seorang pujangga telah menemukan sebuah hukum baru; "Hukum Kekekalan Rasa" Hukum ini ditulis berdasar dari pengamatan dan pengalaman pujangga tersebut. Disini ia akan bercerita dan menjelaskan mengenai "Hukum Kekekalan Rasa" Maka dengarlah penjelasannya. Jika kalian pernah merasa hal yang sama seperti yang ditulisnya, ketahuilah bahwa : Cinta memang buta, dan Rasa akan kekal jua. Tetapi, Cinta dan Rasa jangan di pendam saja atau terus dikekang masa.
All Rights Reserved
#1
satraindonesia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • Bagian Kosong [COMPLETED]
  • Love in Silence [END]
  • Menata Hati dari Cinta
  • Yang Pernah Patah
  • Kisah Nyata Dalam Mimpi
  • Love And Hurts (SELESAI)
  • Stain
  • ALTER EGO (TAMAT)
  • R E T A K  (TAMAT-SUDAH TERBIT)

❝Keputusan berat yang harus aku ambil, demi menjagaku juga menjagamu adalah menjauhimu. Bukan karena benci, tapi karena aku mencintaimu. Semata agar kau dan aku tidak terjerumus dalam syahwat yang hina.❞ Begitulah kutipan tulisan yang aku tulis dan kutujukan untuk seseorang, cinta pertamaku. Assalamu'alaikum ... aku Rania Andinadya. Jika kamu bertanya kisah ini mengisahkan tentang apa ... ini tentang perjalananku dalam menemukan hingga harus belajar mengikhlaskan cinta pertamaku. Aku, begitu mencintai dia. Namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai suatu masa, ketika cintaku mulai terbalaskan, hidayah-Nya perlahan-lahan mengetuk pintu hatiku. Aku pun menyadari, aku dan dia tidak seharusnya sering berinteraksi, demi menghindari syahwat yang hina. Meski telah berhijrah, cintaku kepadanya masih sama. Dalam diam, aku tetap mencintai dan mendo'akan kebaikan untuknya. Tapi, siapa sangka takdir malah berkata lain. Setelah menjauhinya sebab cinta, ia telah menemukan pujaan hatinya. Lantas aku berusaha mengikhlaskan, meskipun ikhlas adalah suatu hal yang teramat pelik. Dan satu pertanyaan terus mengusik pikiranku ... mampukah aku mengikhlaskannya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines