SENJA DI PERSIMPANGAN DUA JALAN
5 capítulos Em andamento Senja Jakarta melukis langit dengan gradasi jingga dan ungu, sama absurdnya dengan perasaan Bulan saat ini. Di satu sisi, ada Saka. Lelaki dengan teduh seperti rembulan-ironis, mengingat namanya-selalu bisa membuatnya merasa aman, layaknya pulang ke rumah setelah seharian mengembara. Saka menawarkan ketenangan, percakapan mendalam tentang semesta dan seisinya, dan senyum yang mampu meluluhkan perlindungan Bulan tanpa perlu kata-kata.
Di sisi lain, hadir Bara. Ibarat api yang membara-lagi-lagi ironis-hidupnya penuh kejutan dan adrenalin. Bersama Bara, Bulan merasakan hidup dalam film aksi tanpa akhir, penuh tawa riuh, spontanitas yang memacu jantung, dan mewujudkan mata yang menjanjikan petualangan tak terduga.
Bulan menghela nafas di balkon apartemennya, aroma kopi Robusta bercampur dengan polusi kota. Dua hati menawarkan dunia yang berbeda, namun keduanya terasa begitu nyata dan memikat. Bukan sekedar suka, Bulan bisa merasakan getaran yang unik dari masing-masingnya. Saka dengan kelembutannya yang menenangkan, Bara dengan energinya yang membakar. Bagaimana mungkin ia harus memilih satu, ketika keduanya menawarkan kepingan yang hilang dalam dirinya? Kebimbangan ini bagai simfoni yang indah namun memekakkan, sebuah melodi rumit yang memaksa Bulan untuk menari di antara dua irama yang berbeda. Keputusan ini bukan tentang siapa yang lebih baik, tapi tentang hati mana yang benar-benar beresonansi dengan melodi jiwa. Dan saat ini, Bulan belum bisa mendengar jawabannya.