Ke-25
  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Feb 7, 2017
Suamiku berjalan mendekat. Senyum terkembang di wajahnya. Melihatnya tersenyum mendadak rasa takutku hilang. Desir jantungku mulai melambat seiring langkahnya yang semakin mendekatiku. Kedua tangannya ia sembunyikan di belakang, aku yakin itu pasti hadiah ulang tahun pernikahan kami. Apakah itu bunga, atau cokelat, atau apakah itu? Aku sungguh penasaran. Ia memelukku dengan sebelah tangannya seraya berbisik,"Selamat ulang tahun perkawinan yang ke-25, Ratna." . . . (cerpen ini dibuat saat sedang riweh tugas akhir transkrip sidang jessica kumala wongso sehingga ada beberapa dialog yang sama, yaiyalah orang copas, lol)
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SENI MEMAHAMI HATI ISTRI
  • Langkah Dalam Kebetulan
  • Lelaki Pilihan Ayah & Lekaki Yg Mengagumi Ku [END]✓✓
  • Dosenku Suamiku (TAMAT)                            [TERSEDIA DI GRAMEDIA]
  • TEACHERBAND [END]
  • Love in Apartement
  • He Is My Husband (Selesai season 01)
  • BYE, MANTAN! (TAMAT)
  • Midnight Love
  • Unwanted Husband [END]

Menjelang enam tahun usia pernikahan ternyata tidak menjamin aku bisa memahami karakter seorang perempuan dalam diri istri. Terkadang, aku menyesalkan mengapa di buku nikah tidak disertakan panduan bagaimana suami memahami istri. Waktu beli alat elektronik saja pasti dikasih buku panduan penggunaan. Jadi kalau ada masalah pada alat tersebut, ya tinggal baca buku panduan, ikuti petunjuk, beres. Sedangkan di buku nikah tak ada arahan serupa. Padahal dunia pernikahan nyatanya lebih rumit dari sekedar mengoperasikan alat elektronik. Sebab istri merupakan mahkluk antik. Susah dimengerti tapi selalu ingin dimengerti. Bahkan di beberapa hal, percakapan yang awalnya normal saja, bisa menjadi sensitif dan membuat ia ngambek tak karuan. Seperti beberapa hari sebelum lebaran tiba, ketika aku mendapat pesan WA dari wakil kepala sekolah, yang kebetulan seorang perempuan. "Dari siapa, Bang?" tanya istri. "Dari Bu Bunga (bukan nama ilmiah), aku diminta ambil parcel lebaran di sekolah. Katanya ada tambahan uang juga khusus buat guru honorer. Bu Bunga emang baik, dia yang ngusulin ke yayasan agar guru honorer juga dapat Tunjangan Hari Raya." Lantas istri kembali bertanya, "Bu Bunga itu yang mana, Bang?" "Masa' ndak inget, Neng? Waktu Ayas opname tahun lalu beliau njengukin di rumah sakit. Bu Bunga pakai baju hitam kerudung putih," ucapku. Tanpa disangka istri langsung manyun, "Duh, kayaknya spesial banget Bu Bunga di pikiran Abang. Sampai baju yang dipakai setahun lalu pun diingat." Loh, kok jadi kayak gini? Ucapku dalam hati. "Iya, kan? Orangnya spesial kan di mata Abang?" "Ya Allah, ndak gitu, Neng."

More details
WpActionLinkContent Guidelines