Ini Bukan Cerita

Ini Bukan Cerita

  • WpView
    MGA BUMASA 195
  • WpVote
    Mga Boto 4
  • WpPart
    Mga Parte 17
WpMetadataReadKumpleto Wed, Feb 15, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
Terkadang ada beberapa perasaan yg ingin kita utarakan Tapi sulit, tidak bisa, bahkan tidak pantas untuk di ucapkan Boleh kah aku berbagi dengan kalian? Terdengar kekanak-kanakan memang Tapi itulah manusia, seberapa tua umurnya terhitung. Satu hal yg selalu melekat, sisi kekanak-kanakan itu Akan selalu ada
All Rights Reserved
#25
she
WpChevronRight
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • Rasa Tanpa Kata
  • Dunia Selalu Ingin Bercanda
  • PERJODOHAN PAKSA ( END )
  • don't leave daddy CH2 (END)
  • Remember Me As A Time of Day✅
  • Close Your Eyes (Sehun - Jieun) (End)
  • TAK TERLIHAT TAPI ADA (ONE SHOOT SHANCHRIS)

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman