Mau Jadi Apa?

Mau Jadi Apa?

  • WpView
    LETTURE 10,339
  • WpVote
    Voti 334
  • WpPart
    Parti 41
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione gio, ago 3, 2017
WpInfo
SAGGISTICA
Sebelum saya jadi jurnalis, sebelum saya jadi stand-up comedian, saya adalah mahasiswa yang dijuluki si macan kampus. Saya mau berbagi cerita soal pengalaman saya selama kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajaran angkatan '97 . Tapi untuk sampai di cerita bagaimana saya memperoleh pencerahan tentang profesi yang saya jajal hingga sekarang, saya mau cerita dulu masa masih berseragam putih abu-abu. Masa ketika masih jadi remaja tanggung dengan hormon yang bergejolak hingga ke tahun kala saya, Si Macan Kampus ini, merajalela
Tutti i diritti riservati
#44
standupcomedy
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • Jomblo di eskul Pramuka
  • AGRASTIAN [On Going]
  • ALASKARA
  • DOSENKU HOT SUGAR DADDY
  • SEPERTI KISAH (ALI - ALNE) [SELESAI]
  • THE CLIMB [Completed]
  • Two Love One The Heart [On Going]
  • Pak Bian ( Tamat )
  • FALLING IN LOVE
  • More Than Senior

"Mulai hari ini kamu ibu masukkan ke dalam eskul pramuka, bahagialah!" Entah kenapa di akhir kalimat, pengucapan ibu Fatimah begitu menekan ke dalam jantungku. "Tung--Tunggu dulu bu. Saya belum pernah menyetujuinya" "Apakah itu harus?" Nada dingin dan sentuhan tangan beliau langsung menjalar ke urat nadiku "I--itu tergantung dengan situasi dan persepsi dari--" "Mana jawabanmu?" "Baik bu" Sial... Kenapa mulutku tak memikirkan nasibku yang akan datang. "Yaah, ibu tau kamu malu kok" (Bu! Hentikan omong kosong anda) Begitulah kalau aku punya nyali untuk mengucapkannya. "Nandi, mulai hari ini, dia bergabung dengan eskul pramuka" Ibu Fatimah mendekati seorang wanita yang dari tadi memperhatikan kami. Kalau aku bilang, lebih seperti seorang anak kecil sedang memperhatikan anak kecil lainnya yang sedang dipaksa oleh orang yang lebih tua. Entah apa yang mereka bisikkan di sana, tapi aku yakin, pasti itu bersangkutan dengan privasi yang kujaga lebih dari apapun. "Dimas, Nandi juga setuju dengan ini. Jadi kau sepulang sekolah bisa langsung ke ruang pramuka nanti" Lalu beliau tersenyum. Entah kenapa senyuman tersebut mempunyai maksud yang berbeda dari apa yang dia katakan sebelumnya "Jangan kabur ya..."

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti