Fi-Hoon
Buku panduan KKN kampus tidak pernah mengajarkan cara bertahan hidup dari sekte desa kelaparan yang mengintai tepat di bawah kolong tempat tidur.
Enam belas mahasiswa Kelompok 04 mengira pengabdian mereka di Desa Karangsepi hanya sekadar menyusun proker, mengajar anak SD, dan bertahan dari sinyal internet yang mati. Mereka salah besar. Desa terisolasi itu menyimpan kutukan siklus sepuluh tahunan, dan 'daging muda' mereka adalah target persembahan selanjutnya.
Namun, ketika nyawa berada di ujung tanduk dan teror merayap dari balik tembok buntu posko, insting survival justru memicu hal yang tak terduga: cinta lokasi jalur ekstrem.
Ketika barikade perlahan hancur dan mereka dikepung dari segala arah, mana yang lebih dulu membunuh mereka: kutukan maut Karangsepi, atau detak jantung saking bapernya di saat yang tidak tepat?
Penasaran sama kelanjutannya? Cusss langsung baca aja~