velvet_rielle
Ginny bangun dengan perasaan aneh.
"Buongiorno, Signorina. Ha dormito bene?"
(Selamat pagi, Nona. Apakah tidurnya nyenyak?)
Asisten rumah berdiri di pintu, wajahnya biasa saja.
"Io... ho sognato," (Aku... mimpi,) kata Ginny, masih setengah sadar.
"Che sogno, Signorina?" (Mimpi apa, Nona?)
Ginny garuk kepala. "Ho sognato di incontrare una persona strana nel villaggio, sì chiamava Pasti." (Mimpi ketemu orang aneh di desa, Namanya Pasti.)
Asisten itu tersenyum kecil. "Che nome strano." (Nama yang aneh.)
Tapi Ginny? Dia masih bengong.
Soalnya... kenapa dia masih ingat baunya?
Dan kenapa dadanya masih berdebar kayak orang yang baru ketinggalan sesuatu?
"Signorina? Va tutto bene?" (Nona? Apakah semuanya baik-baik saja?)
"Sì, Sto solo... pensando a qualcosa." (Iya. Aku hanya... memikirkan sesuatu)
Asisten itu mengangguk, lalu berbalik.
"La colazione è pronta, Signorina. Oggi parte per Yogyakarta, vero?"
(Sarapan sudah siap, Nona. Hari ini berangkat ke Jogja, kan?)
Jogja. Asrama. Benar. Itu rencana awal.
Tapi kenapa ya, rasanya... dia lebih pengen balik ke desa itu?
"Signorina?"
Ginny menghela napas. "Sì, Scendo subito." (iya, aku akan turun)
Asisten itu pergi. Ginny menatap langit-langit kamarnya.
Jadi... itu cuma mimpi, ya?